Kamis, 11 April 2024

Krakatau Steel Raih Laba Operasi US$ 72,67 Juta di Q3-2020

ads-custom-5

Jakarta, BUMNInfo | PT Krakatau Steel (Persero) Tbk mencatatkan laba operasi sebesar US$ 72,67 juta pada periode Januari-September 2020. Emiten penghasil baja itu pun mencetak EBITDA positif sebesar US$ 55,99 juta. Jumlah itu meningkat signifikan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang defisit US$ 40,51 juta. Perseroan menyimpulkan bahwa program efisiensi yang dijalankan olehnya berperan besar dalam raihan kinerja positif ini.

 

Tercatat hingga Kuartal III 2020, emiten berkode saham KRAS ini telah menurunkan biaya operasi hingga 50% setiap bulannya. Perseroan melakukan efisiensi biaya operasi di antaranya melalui penurunan biaya energi sebesar 41%, biaya utilitas 21%, biaya consumable 51%, dan biaya spare part 60% dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019. KRAS juga berhasil menurunkan cash cycle dari 82 hari menjadi 62 hari sebagai upaya untuk memperbaiki arus kas.

 

“Transformasi dan restrukturisasi Krakatau Steel yang dilakukan di segala lini hingga ke seluruh anak perusahaan telah menunjukkan hasil yang baik. Segala upaya yang kami lakukan ini membuat Krakatau Steel mampu bertahan di tengah kondisi perekonomian nasional yang terganggu akibat pandemi Covid-19”, ungkap Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim.

  

Silmy mengatakan, dalam upaya menggerakkan kembali perekonomian nasional yang terganggu akibat pandemi Covid-19 tersebut, Krakatau Steel mengambil peran penting untuk membantu industri hilir dan industri pengguna nasional melalui inisiatif pemberian relaksasi kepada industri hilir dan industri pengguna. Hal ini dilakukan melalui realisasi kebijakan investasi pemerintah dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) senilai Rp 3 triliun dengan cara penerbitan obligasi wajib konversi yang sudah mendapat persetujuan pemegang saham pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang digelar 24 November 2020 lalu.

 

“Posisi Krakatau Steel sebagai penyedia produk baja hulu, sangat berpengaruh dalam menyokong kegiatan operasional industri hilir dan industri pengguna. Oleh karena itu, kebijakan investasi Pemerintah akan memberikan fleksibilitas kepada Krakatau Steel untuk membantu konsumen industri hilir dan industri pengguna melalui perpanjangan siklus pembayaran serta pembelian bahan baku sehingga dapat memulihkan pasar dan industri baja,” jelas Silmy.

 

Selanjutnya, pasar baja domestik telah menunjukkan tanda perbaikan positif. Silmy menguraikan, hingga saat ini pasar baja sudah pulih sebesar 80%. Hal ini memberikan optimisme bahwa ke depannya di kuartal II 2021, pasar baja domestik akan kembali pulih seperti sebelum masa pandemi. Perbaikan ini juga ditandai dengan kenaikan harga baja internasional. Menurut World Steel Dynamics, 23 Oktober 2020, harga baja internasional untuk produk Hot Rolled Coil (HRC) di Kuartal IV 2020 mengalami peningkatan 27,1% dibandingkan dengan harga di kuartal II 2020.

 

Sumber: CNBC Indonesia, Kompas

Foto: istimewa

BERITA TERKAIT

ads-sidebar
ads-custom-4

BACA JUGA

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU