Rabu, 5 Juni 2024

Jaga Ketahanan Pangan, Erick Thohir Minta BUMN Amankan Bahan Baku Pupuk

ads-custom-5

Jakarta, BUMN Info – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir meminta perusahaan pelat merah terkait untuk mengantisipasi gejolak global yang terjadi saat ini, termasuk dalam hal ketahanan pangan. Ia mengatakan, salah satu yang perlu diantisipasi dalam menjaga ketahanan pangan adalah ketersediaan pupuk. Maka dari itu, dia meminta PT Pupuk Indonesia (Persero) untuk mengamankan pasokan bahan baku, termasuk dari luar negeri.

“Supply chain (rantai pasok) untuk pupuk, kita harus tingkatkan. Yang namanya kebutuhan bahan pasok untuk pupuk itu seperti potash, phospat, dan lain-lainnya,” ujar Erick saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, Sabtu (20/4/2024). Ia menuturkan, memastikan ketersediaan pasokan bahan baku pupuk merupakan kunci untuk ketahanan pangan. Oleh karena itu, pihaknya berupaya mencari investor untuk masuk ke industri bahan baku pupuk.

“Kita sendiri sudah hampir dua tahun untuk mencari investasi di bidang bahan baku ini. Jadi lebih ke bahan baku security-nya,” ucap dia. Saat pandemi Covid-19, kata Erick, BUMN masih terus menjalankan operasinya, bahkan melakukan cukup banyak aksi korporasi guna menjaga perekonomian nasional.

Maka ketika saat ini terjadi gejolak global akibat memanasnya konflik geopolitik antara Iran dan Israel, dia menegaskan, BUMN tidak boleh berhenti melakukan ekspansi bisnis. “Justru dengan situasi seperti ini saya sudah ingatkan kita jangan slowing down, justru kita harus agresif.

Siapa tahu di tengah kondisi seperti ini ada opportunity (peluang) karena Indonesia dilihat salah satu negara yang stabil secara pertumbuhan ekonomi dan politik,” paparnya. Selain upaya mengamankan bahan baku dari luar negeri, Pupuk Indonesia juga diminta untuk meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri, salah satunya dengan merampungkan pembangunan pabrik di kawasan Indonesia Timur.

Adapun pembangunan pabrik tersebut dilakukan oleh anak usahanya, PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) yang berlokasi di Fakfak, Papua Barat dengan nilai investasi sekitar Rp 30 triliun. Nantinya pabrik yang ditarget beroperasi pada 2028 itu akan memiliki kapasitas produksi 1,15 juta ton urea dan 825.000 ton amoniak. “Karena kalau kita lihat mapping-nya kan di Kalimantan ada, Jawa ada, Sumatera, tetapi di Timur kan belum. Makanya ada pengembangan juga pabrik pupuk di wilayah Indonesia Timur,” kata Erick.

BERITA TERKAIT

ads-sidebar
ads-custom-4

BACA JUGA

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU