Senin, 20 Mei 2024

Di Tengah Kasus Rp271T, Saham Timah (TINS) Melejit 10%, Ada Apa?

ads-custom-5

Jakarta, BUMN Info – Emiten pertambangan BUMN logam PT Timah Tbk (TINS) terpantau melesat pada perdagangan sesi II Selasa (16/4/2024), karena naiknya harga timah global.

Per pukul 15:40 WIB, saham TINS melejit 10% ke posisi Rp 990/saham. Saham TINS bergerak di rentang harga Rp 900 – Rp 1.005 per saham.

Saham TINS pada sesi II sudah ditransaksikan sebanyak 13.937 kali dengan volume transaksi mencapai 141,14 juta lembar saham dan nilai transaksinya mencapai Rp 137,04 miliar. Adapun kapitalisasi pasarnya saat ini mencapai Rp 7,37 triliun.

Dari orderbook-nya, pada order bid atau beli, harga Rp 985/saham menjadi yang paling banyak antrean belinya pada sesi II hari ini, yakni mencapai 23.159 lot atau sekitar Rp 2,3 miliar.

Sedangkan di order offer atau jual, posisi harga Rp 1.000/saham menjadi yang paling banyak antrean jualnya pada sesi II hari ini, yakni sebanyak 32.786 lot atau sekitar Rp 3,3 miliar.

Saham TINS berhasil melejit di tengah melonjaknya harga timah global. Mengutip Financial Times, Senin kemarin, kontrak berjangka (futures) aluminium membukukan kenaikan intraday terbesar sejak setidaknya 1987.

Harga nikel dan tembaga juga melonjak setelah Inggris dan Amerika Serikat (AS) memberlakukan sanksi yang berupa larangan perdagangan pasokan baru logam industri penting dari Rusia di dua bursa terbesar di dunia tersebut.

Aluminium, yang digunakan dalam kaleng, pesawat terbang hingga konstruksi bangunan, melonjak sebanyak 9,4% pada Senin kemarin, menjadi kenaikan intraday terbesar sejak kontrak tersebut diluncurkan dalam bentuk saat ini 37 tahun yang lalu, sebelum keuntungannya terpangkas menjadi 2,8% ke US$ 2.562 per ton.

Nikel, bahan utama dalam baterai kendaraan listrik dan pembuatan baja, juga melesat 1,5%.

Langkah ini dilakukan setelah pemerintah Inggris dan AS pada Jumat pekan lalu melarang pengiriman pasokan baru Rusia ke London Metal Exchange (LME) dan Chicago Mercantile Exchange (CME).

Tembaga, logam ketiga yang tercakup dalam kebijakan baru ini, bertambah 1,6% menjadi US$ 9.604 per ton, level tertinggi dalam 22 bulan, di tengah ekspektasi pasar yang lebih ketat akibat sanksi tersebut.

Berdasarkan data dari Citigroup, Rusia adalah produsen utama ketiga logam tersebut, setara dengan 6% total produksi aluminium dunia, 4% tembaga, dan 11% logam nikel dengan kemurnian tinggi.

Selain itu, harga timah di (LME) juga melonjak mendekati level tertinggi dalam dua tahun pada pekan ini seiring penurunan stok di bursa dan munculnya ancaman lain terhadap rantai pasokan yang sudah tertekan.

Pasar logam terbesar di dunia ini sedang berjuang melawan penumpukan persediaan pasokan Rusia, yang selama ini dianggap kurang diminati.

Aluminium merupakan komoditas yang paling ekstrem karena lebih dari 90% persediaannya berasal dari Rusia, sehingga menimbulkan kekhawatiran bahwa tolok ukur harga mungkin tidak mencerminkan harga global di dunia riil.

Di lain sisi, kKasus korupsi tata niaga timah yang menyasar sejumlah produsen Tanah Air tampaknya tak berpengaruh negatif di pasar global, bahkan saham TINS sekalipun. Harga justru melejit karena pasokan terbatas.

Sebagaimana diketahui, Indonesia menjadi produsen timah nomor dua setelah China dengan 90% produksinya berada di Bangka Belitung. Saat ini banyak perusahaan timah yang sedang menjalani proses hukum di kejaksaan dengan dugaan kerugian lingkungan mencapai Rp 271 triliun, sedangkan dampak kerugian perekonomian masih dipelajari.

BERITA TERKAIT

ads-sidebar
ads-custom-4

BACA JUGA

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU