Minggu, 21 April 2024

Pertamina Yakin Rebound di Paruh Akhir 2020

ads-custom-5

Jakarta, BUMNInfo | PT Pertamina (Persero) tercatat mengalami kerugian sekitar Rp 11 triliun pada semester I/2020. Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan di laman resmi perusahaan, penurunan laba diakibatkan pendapatan perusahaan yang berkurang dari US$ 25,55 miliar atau Rp 327 trilIun menjadi US$ 20,48 miliar atau Rp 298 triliun.

 

beban produksi hulu dan lifting juga naik dari US$ 2,38 miliar pada periode Januari-Juni 2019 menjadi US$ 2,43 miliar pada Januari-Juni 2020. Juga beban dari aktivitas operasi lainnya yang melonjak dari US$ 803,7 juta menjadi US$ 960,98 juta pada semester I 2020. Hasil penjualan dalam negeri minyak mentah, gas bumi, energi panas bumi dan produk minyak Pertamina turun dari US$ 20,94 miliar menjadi US$ 16,56 miliar pada periode ini.

 

Sementara itu, penjualan ekspor minyak mentah, gas bumi, dan produk minyak justru naik dari US$ 1,61 miliar menjadi US$ 1,76 miliar. Berkurangnya penjualan juga disebabkan penggantian biaya subsidi dari pemerintah turun, dari US$ 2,51 miliar menjadi US$ 1,74 miliar.

 

Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengungkapkan, sepanjang semester I 2020 pihaknya menghadapi triple shock akibat pandemi Covid-19, yakni penurunan harga minyak mentah dunia, penurunan konsumsi BBM di dalam negeri serta pergerakan nilai tukar dollar.

 

Shock yang dialami pada masa pandemi Covid-19 adalah penurunan permintaan (demand) BBM, depresiasi rupiah, dan juga crude price yang berfluktuasi yang sangat tajam,” terang Fajriyah dalam keterangannya, Minggu (30/8/2020).

 

Kendati demikian, manajemen perusahaaan migas plat merah tersebut mengungkapkan kinerjanya tengah menunjukkan tren positif, seiring pemberlakuan adaptasi kebiasaan baru dan pergerakan perekonomian nasional.

 

“Tren penjualan Pertamina mulai merangkak naik. Kinerja kumulatif Juli juga sudah mengalami kemajuan dan lebih baik dari kinerja kumulatif bulan sebelumnya,” yakinnya.

 

Manajemen Pertamina mengklaim telah berhasil menjalankan strategi dari berbagai aspek baik operasional maupun finansial untuk memperbaikinya. Tercatat, laba bersih mengalami kenaikan sejak Mei sampai Juli 2020 dengan rata-rata sebesar 350 juta dollar AS setiap bulannya. Pencapaian positif ini akan terus mengurangi kerugian yang sebelumnya telah tercatat. Ia yakin, dengan memperhatikan tren yang ada, kinerja akan terus membaik sampai akhir tahun 2020.

 

“Mulai Mei berlanjut Juli, dan ke depannya, kinerja makin membaik. Dengan laba bersih (unaudited) di Juli sebesar 408 juta dollar AS, maka kerugian dapat ditekan dan berkurang menjadi 360 juta dolar atau setara Rp 5,3 triliun,” tutur Fajriyah.

 

Lebih lanjut, dia menuturkan kinerja laba operasi dan EBITDA juga tetap positif, sehingga secara kumulatif dari Januari sampai dengan Juli 2020 mencapai 1,26 miliar dollar AS dan EBITDA sebesar 3,48 miliar dollar AS. Fajriyah mengungkapkan, hal ini menunjukkan bahwa secara operasional Pertamina tetap berjalan baik, termasuk komitmen Pertamina untuk menjalankan penugasan dalam distribusi BBM dan LPG ke seluruh pelosok negeri serta menuntaskan proyek strategis nasional seperti pembangunan kilang.

 

“Tentu saja, perbaikan kinerja tidak semudah membalikkan tangan, perlu proses dan perlu waktu. Sekarang ini, sudah terlihat dengan kerja keras seluruh manajemen dan karyawan, kinerja Pertamina mulai pulih kembali,” ujar Fajriyah.

 

Pertamina juga tetap fokus mengejar target operasi dan produksi migas demi menjaga ekosistem migas nasional serta berkontribusi bagi negara. Di sektor hulu, kendati menghadapi tantangan berat, hingga Juli 2020, produksi minyak dan gas bumi Pertamina Group baik untuk aset domestik maupun internasional masih mencapai 98% atau 875 MBOEPD (ribu barel setara minyak per hari), dengan rincian produksi minyak bumi sebesar 410 MBOPD (ribu barel minyak per hari) dan produksi gas bumi sebesar 2.692 MMSCFD (juta kaki kubik per hari).

 

“Secara umum kinerja hulu Pertamina (domestik dan internasional) tetap berjalan baik dengan menyelesaikan pengeboran eksplorasi sebanyak delapan sumur, pengeboran eksploitasi sebanyak 182 sumur dan pekerjaan workover sebanyak 362 sumur. Jadi kita terus berupaya maksimal mencapai target produksi migas,” jelas Fajriyah.

 

Selain eksploitasi, Pertamina juga terus mengintensifkan kegiatan eksplorasi. Hingga kini, Pertamina EP mampu menorehkan capaian terbaik dengan discovery sumber daya migas baru di Cekungan Jawa Barat, tepatnya di sumur Akasia Prima-1 (AKP-1) dan di sumur Wolai-002 di Sulawesi Tengah.

 

Fajriyah menambahkan, walaupun menghadapi triple shock akibat pandemi, Pertamina juga optimis menjalankan amanah untuk memutar roda perekonomian dan menghindari Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dengan tetap mengoperasikan wilayah kerja hulu maupun sejumlah proyek strategis lainnya, seperti Proyek RDMP Balikpapan, Proyek Aromatic TPPI, Proyek Jambaran Tiung Biru, dan Proyek PLTG Jawa-1. Selain itu, seluruh aktivitas di Hilir maupun distribusi juga tetap berjalan baik.

 

“Terdapat 1,2 juta tenaga kerja yang langsung terkait dengan seluruh aktivitas bisnis Pertamina yang diupayakan untuk tetap dipekerjakan dan tidak dilakukan pemutusan hubungan kerja (PHK),” pungkasnya.  

 TKDN pertamina

Sumber: Kompas.comPertamina

Foto: Istimewa

Infografis: BUMNINFO/Naufal Anjani

BERITA TERKAIT

ads-sidebar
ads-custom-4

BACA JUGA

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU