Senin, 4 Maret 2024

Fakta Jejak Karyawan KAI Tersangka Teroris Baiat ke ISIS Sejak 2014

ads-custom-5

Jakarta, BUMN Info – Densus 88 Antiteror Polri telah menetapkan pria berinisial DE, karyawan PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai tersangka tindak pidana terorisme. DE disebut sudah sejak 2014 berbaiat ke kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).
“2014, DE pertama kali menyatakan baiat kepada amir ISIS,” kata Kabag Ops Densus 88 Antiteror Polri Komisaris Besar Aswin Siregar dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (15/8/2023).

Sejak saat itu pria berusia 28 tahun tersebut semakin serius mempersiapkan diri untuk berjihad. DE berlatih dan mengumpulkan barang-barang terkait dengan rencana jihadnya.

“Dari situ, mulai dia melakukan aktivitas-aktivitas persiapan. Yang bersangkutan melakukan latihan, pengumpulan peralatan yang dibutuhkan,” jelas Aswin.

1. Pernah Gabung MIB
Aswin menerangkan DE diketahui pernah bergabung dalam kelompok Mujahidin Indonesia Barat (MIB). Hal itu terjadi 13 tahun silam.

“Pada tahun 2010, itu pernah bergabung dengan jaringan Mujahidin Indonesia Barat pimpinan WM yang sudah ditangkap,” ucap Aswin.

Setelah itu, Mujahidin Indonesia Barat bubar. DE kemudian aktif dan berbaiat ke ISIS pada 2014.

Aswin mengungkap bahwa DE berbaiat kepada ISIS sebelum bekerja sebagai karyawan PT KAI. Untuk diketahui DE menjadi karyawan PT KAI sejak 2016.

“Ya, jadi dari catatan tentang status karyawannya dia itu bergabung 2016 sebagai karyawan PT KAI,” terang Aswin.

2. Masuk ISIS, DE Aktif Sebar Propaganda Terorisme
Kombes Aswin mengatakan DE aktif melakukan propaganda-propaganda di media sosial. Akun media sosialnya pernah diblokir, namun membuat akun baru untuk menyebarkan paham terorisme.

“Yang bersangkutan aktif di sosial media sampai beberapa akun sebelumnya telah di-report, dan ditutup oleh Facebook maupun YouTube karena diduga mempropaganda aksi terorisme,” katanya.

“Tapi yang bersangkutan berganti akun lagi dan mem-posting lagi, dan lebih privat belakangan ini,” ujarnya.

3. Modus DE Hilangkan Jejak Propaganda
DE menyebarkan seruan untuk jihad secara privat dengan menggunakan fitur message timer. Kini Densus 88 Antiteror mendalami siapa saja penerima pesan tersebut.

“Tiga minggu ke belakang puncaknya yang bersangkutan terlihat ghirohnya semakin tinggi dengan menyebarkan ajakan atau imbauan untuk amaliyah atau aksi terorisme, sehingga pesan-pesan itu disebarkan secara privat menggunakan timer,” kata Aswin dalam jumpa pers di Mabes Polri.

“Sehingga ketika sampai di penerima itu dibuka, diterima dan langsung hilang dari jaringan,” lanjut Aswin.

Agar tak mencolok, sambung Aswin, DE juga berkamuflase di marketplace untuk menutupi kegiatan pengumpulan senjata. Dalam akun marketplace-nya, DE berkamuflase menjual diecast atau mainan militer.

“Kita amankan yang bersangkutan setelah mem-profiling. Yang bersangkutan memiliki juga akun marketplace di salah satu akun penjualan online yang dikamuflasekan yang bersangkutan untuk berjualan diecast mainan militer,” ucap Aswin.

Adapun mainan militer yang dia jual antara lain perlengkapan dan senjata-senjata mainan.

“Yang berkaitan dengan perlengkapan ada gear, ada baju, ada perlengkapan taktikal, termasuk senjata ini,” imbuhnya.

4. Gunakan Akun Telegram untuk Galang Dana
Aswin lalu menjelaskan DE diduga terlibat penggalangan dana terorisme. DE disebut menggalang dana via aplikasi perpesanan Telegram.

“Dia membuka, yang bersangkutan memiliki satu akun di Telegram, akun itu gunanya untuk menggalang dana,” jelas Aswin.

Namun, Aswin belum merinci soal besaran dana serta aliran hasil penggalangan dana tersebut. Dia menyatakan penyidik masih mendalami penggalangan dana yang dilakukan DE.

“Ini juga besarannya berapa dan ke mana ini masih didalami oleh penyidik. Nanti kita perjelas lagi dengan penyidik,” ungkap Aswin.

5. Rencanakan Penyerangan Anggota TNI-Polri
Aswin menerangkan DE memiliki semangat untuk melakukan tindak pidana terorisme setelah tahanan teroris menyerang petugas di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, pada Mei 2018.

“Dalam pemeriksaan, punya ghiroh setelah melihat video pemberontakan pelaku teroris di Mako Brimob, ini masih kita dalami,” tutur Aswin.

Setelah itu, DE melakukan latihan-latihan untuk bisa melancarkan aksi terorisme. Selain menyerang polisi, DE juga disebut hendak menyerang markas TNI.

“Sehingga yang bersangkutan melakukan latihan-latihan, sudah beberapa kali melakukan latihan, kemudian memiliki rencana atau niatan aksi kembali ke Mako Brimob di Kelapa Dua dan di Jawa Barat, juga terhadap beberapa markas tentara yang sudah dikenali atau sudah ditandai, di-profiling oleh yang bersangkutan,” jelas Aswin.

DE berencana melakukan amaliyah dengan menyerang Mako Brimob Kelapa Dua untuk membebaskan para narapidana terorisme (napiter). Pemikiran DE juga terpengaruh film terkait aksi terorisme.

“Pengakuan yang bersangkutan, Mako Brimob Kelapa Dua menjadi opsi utama/karena terinspirasi kerusuhan Mako Brimob 2018 dan film pertempuran ghuwairan (pembebasan napiter di Syam),” kata Aswin.

source : Detik
dokumentasi : Kompas

BERITA TERKAIT

ads-sidebar
ads-custom-4

BACA JUGA

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU