Senin, 20 Mei 2024

Virus Corona Berkepanjangan, IPC Lanjutkan Operasional Pelabuhan Peti Kemas dan Revisi Target Tahunan

ads-custom-5

Jakarta, BUMNInfo | PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau Indonesia Port Corporation (IPC) bisa saja melakukan revisi target kinerja tahunan akibat dampak penyebaran virus corona (Covid-19) yang masih terjadi hingga saat ini. Hal itu disampaikan oleh Direktur Utama IPC Arif Suhartono.

 

Kinerja yang dimaksud adalah soal target throughput atau jumlah bongkar muat peti kemas. Sebelumnya Perseroan menetapkan target sebesar 8,1 juta TEUs (twenty-foot equivalent units). Akan tetapi, adanya pengurangan aktivitas distribusi akibat virus Covid-19, target tersebut kemungkinan direvisi.

 

IPC menargetkan tahun ini masih mampu meraup pendapatan senilai Rp13,5 triliun dengan target laba bersih senilai Rp3,1 triliun. Kinerja tersebut dapat diraih bila throughput mencapai 8,1 juta TEUs. Pertumbuhan arus peti kemas tersebut ditargetkan tumbuh sebesar 5 persen dibandingkan dengan pada tahun lalu.

 

Akan tetapi dengan kondisi global saat ini yang dilanda virus corona, IPC harus bekerja lebih keras. Arif memprediksi, revisi target bongkar muat peti kemas akan berdampak secara linier terhadap seluruh kinerja perusahaan, baik dari sisi pendapatan maupun laba.

 

Lebih lanjut, dia menegaskan pengiriman barang ekspor dan impor ke China menjadi yang paling terdampak di antara berbagai aktivitas lainnya. Dengan demikian, selama periode Januari-Februari 2020, diperkirakan terjadi pengurangan throughput di Terminal JICT yang banyak mengurusi kiriman dari China.

 

“Kami lihat 2-3 bulan ke depan seperti apa, saya dengar kabar China sudah mulai produksi lagi. Saya pikir dampaknya akan 2-3 bulan, kalau sampai dengan Mei-Juni masih ada (Covid-19) pasti kami sampaikan ke pemegang saham, pasti ada rolling budget,” terang Arif.

 

Salah satu dampaknya, yakni ketika China memperpanjang masa libur Tahun Baru China yang menyebabkan banyak pabrik libur. Aktivitas produksi tidak terjadi, sehingga barang yang didistribusikan ke Indonesia menjadi tidak ada.

 

Turunnya volume pengiriman dari China membuat performa bongkar muat di terminal JICT merosot hingga 10% pada periode Januari-Februari 2020 jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019.

 

“Ada beberapa terminal yang kapalnya dari China sudah terdampak, tapi ada yang belum terdampak karena kebanyakan kirimannya tidak dari China. Misalnya JICT yang terdampak,” tuturnya.

 

Kendati digempur penurunan kinerja, IPC bertekad untuk tidak menghentikan operasional terminal peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, meski ada kabar kemungkinan pemberlakuan karantina total (lockdown).

 

Direktur Transformasi IPC Ogi Rulino mengatakan, mitra pemilik barang maupun pemilik kapal di luar negeri mulai mempertanyakan adanya kemungkinan terhentinya layanan kepelabuhanan menyusul wabah Covid-19 di Indonesia. Operasional akan terhenti apabila ada permintaan khusus dari pemerintah bahwa semua kegiatan di pelabuhan harus dihentikan.

 

“Kami memberikan jaminan bahwa pelabuhan, terutama terminal peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok terus beroperasi,” ungkap Ogi.

 

Ogi menambahkan, pelabuhan peti kemas semestinya tetap berjalan meski ada status lockdown. Kegiatan di pelabuhan dinilai masih bisa berjalan sebab yang justru diwaspadai adalah aktivitas keluar masuknya orang, bukan peti kemas melayani pengiriman barang.

 

“Malaysia yang mengambil kebijakan lockdown, misalnya, terminal peti kemasnya tetap beroperasi. Larangan keluar masuk wilayah tersebut hanya berlaku bagi manusia untuk meminimalisir penularan virus corona yang sudah menjadi pandemik global,” tuturnya.

 

 

Sumber: Bisnis.comKompas.com

BERITA TERKAIT

ads-sidebar
ads-custom-4

BACA JUGA

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU