Kamis, 11 April 2024

Perkuat Bisnis Komersial dengan PMN, Bulog Bangun 4 Gudang Modern

ads-custom-5

Jakarta, BUMNInfo | Direktur Pengembangan Bisnis dan Industri Perum Bulog Imam Subowo menargetkan, rampung menyerap dan memanfaatkan 100% Penyertaan Modal Negara (PMN) pada akhir tahun 2020.

Seperti diketahui, Bulog mendapat suntikan dana sebesar Rp 2 triliun berupa PMN pada tahun 2016. Dana itu direncanakan untuk membangun sejumlah infrastruktur dan fasilitas untuk menopang kinerja Bulog. “Saat ini, pemanfaataan PMN masih sangat kecil.

Tahun ini lumayan gede, bisa sekitar 16,9% sampai akhir tahun. Tapi, secara penuh, pemanfaatan PMN itu harus selesai 100% pada akhir tahun 2020. Memang ada penundaan pemanfaatan karena ada re-evaluasi dan perubahan peruntukan.Tentu, kami izin dulu ke Kementerian BUMN.

Saat ini, kami tengah melakukan proses perancangan, semoga dalam 1-2 pekan ke depan rampung dan bisa dimulai lelang. Lalu, kontruksi bisa kita harapkan dimulai akhir tahun ini,” kata Imam kepada wartawan di Jakarta, Senin (23/9).

Imam memaparkan, dana PMN tersebut direncanakan untuk pembangunan 4 gudang modern. Dengan dana ditaksir mencapai Rp 80 miliar per gudang modern. Yakni, di Jakarta, Medan, Surabaya, dan Makassar. Menurut dia, dalam satu area gudang modern tersebut, bakal ada 4 bangunan gudang penyimpangan berkapasitas 3.500 ton dan 1 gudang penjualan.

Selain itu, akan dibangun 5 corn drying center (CDC), terdiri dari mesin pengering jagung (dryer) dan silo. “Kami juga akan bangun 22 gudang komoditas, 3 diantaranya untuk kedelai. Kami juga akan bangun 14 modern rice milling plant (MRMP), milling rice unit (MRU), 7 unit mesin rice to rice. Rencananya, mesin rice to rice akan ada di semua gudang besar Bulog,” kata Imam.

Imam mengatakan, investasi infrastruktur serta sarana dan prasaran tersebut diperlukan untuk menopang kinerja Bulog. Termasuk, kata dia, karena Bulog akan semakin memperkuat bisnis komersialnya. Apalagi, kata Imam, dalam waktu dekat, Bulog akan meluncurkan 50 merek baru hasil pengembangan bisnis produk komersial.

“Tidak hanya beras, tapi juga produk turunan beras. Ada tepung, bekatul, sekam. Selain beras, kami juga akan menangani jagung, kami juga akan memperkuat rantai suplai daging. Ini semua upaya-upaya kami dalam memperkuat bisnis komersial Bulog. Juga, sebagai solusi atas kendala-kendala di pasar selama ini,” kata Imam.

Dia mencontohkan, mesin rice to rice akan membantu agar beras-beras Bulog dikemas dengan teknologi vakum. “Saat ini kami baru punya beberapa, dengkan kapasitas 3 dan 6 ton per jam. Kami akan adakan mesin rice to rice ini di semua gudang Bulog. Jadi, nanti semua beras Bulog terjamin kualitasnya. Investasi mesin rice to rice ini sekitar Rp 1,5-2 miliar per unit kapasitas 3 ton per jam,” kata Imam.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Bulog Budi Waseso mengatakan, dengan kemasan vakum, kualitas beras Bulog terjamin dan tidak mengandung telur kutu/ kutu. Bahkan, kata dia, beras Bulog akan ditambahkan vitamin dan nutrisi (berfortifikasi).

“Beras Bulog terjamin kualitasnya. Dengan mesin rice to rice, dikemas dengan teknologi vakum, telur nggak ada. Telurnya saja nggak ada, berarti nggak akan ada kutunya. Kami belajar dari hasil evaluasi pengalaman sebelumnya. Jadi, jangan apriori terhadap Bulog, selalu menyuarakan beras Bulog nggak baik,” kata Budi Waseso.

Sumber : investor.id

Foto : ANTARA FOTO/RAHMAD

BERITA TERKAIT

ads-sidebar
ads-custom-4

BACA JUGA

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU