Senin, 20 Mei 2024

PT TWC ; Belajar Sejarah Lewat Relief di Candi Borobudur

ads-custom-5

Magelang, BUMN Info | Mudik ke Yogyakarta rasanya kurang lengkap jika tidak berkunjung ke Candi Borobudur. Sebagai salah satu peninggalan sejarah ikon bangsa ini, PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan , & Ratu Boko (Persero) sebagai pengelola mengajak wisatawan untuk memperhatikan setiap gambar pahat di dinding-dinding candi. Sebab, relief itu bukan sekadar penghias, melainkan sebagai sumber pengetahuan. 

Seperti relief Gandawyuha yang digambarkan dalam 460 panel pada lorong dua, tiga dan empat tubuh Candi Borobudur. Relief ini menceritakan tentang anak muda bernama Sudhana yang berkelana mencari pengetahuan dan kebijaksanaan tertinggi. Dia melakukan perjalanan religi keliling India menemui banyak guru spiritual (mitreka satata).

Kisah yang diperkirakan muncul pada awal abad 1 M di India Selatan kemudian menyebar ke seluruh Asia. Dalam kepercayaan Buddha Mahayana, Gandawyuha dikenal sebagai bagian terakhir atau bab 34 dari sutra besar, Sutra Avatasamka.

Di lorong kedua Borobudur, gambar relief menceritakan bahwa pada awalnya Sudhana mengunjungi bodhisatwa Manjusri. Manjusri memberikan arah bagi perjalanan Sudhana. Sudhana menemui berbagai rahib, biarawati, tabib, dewi-dewi dan beberapa orang suci. Ia memperoleh petuah, nasihat, dan wejangan. Sudhana mulai mendapatkan kebijakan yang dicari setelah bertemu dengan bodhisatwa welas asih Avalokitesvara. 

Pada lorong ketiga, relief menggambarkan Sudhana berjumpa dengan bodhisatwa Maitreya yang dalam khazanah Mahayana, tokoh ini dianggap sebagai Buddha masa depan. Guru terakhir inilah yang menghantarkan pangeran Sudhana mencapai kearifan tertinggi dan kebenaran yang hakiki.

Sedangkan lorong keempat menjadi kisah penutup Gandawyuha. Pada lorong keempat ini, badan Sudhana dipahatkan melayang sembari bibirnya tersenyum. Relief terserbut menampilkan Sudhana bertemu dengan bodhisatwa Samanthabadra.

Menurut Hudaja Kandahijaya, cendekiawan Buddhis yang meneliti Candi Borobudur, hanya 25 persen guru yang ditemui Sudhana berasal dari kalangan Buddha. Sebanyak 25 persen lainnya adalah makhluk halus, termasuk Mahadewa. Sisanya yang 50 persen berasal dari kalangan lain termasuk Brahmana, cendekiawan, profesional, politikus, dan perumahtangga (umat awam yang hidup berkeluarga). Pasalnya, dalam pandangan Buddha Mahayana semua makhluk bisa ambil bagian dalam hakikat Buddha.

Relief Gandawyuha di Borobudur ini sangat relevan dibicarakan di tengah kecenderungan fanatisme dan intoleransi agama saat ini. Kisah pencarian Tuhan oleh Sudhana ini sangat universal dan mencerminkan tingkat toleransi agama yang tinggi.

Sumber : bumn.go.id

BERITA TERKAIT

ads-sidebar
ads-custom-4

BACA JUGA

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU