Senin, 15 Juli 2024

Strategi Perum Perindo Stabilisasi Harga Ikan

ads-custom-5

Perusahaan Umum Perikanan Indonesia atau Perum Perindo berupaya melakukan stabilisasi harga ikan yang menunjukkan tren kenaikan sejak awal Februari 2021. Perum Perindo memastikan harga komoditas perikanan akan kembali stabil pada Mei-Juni atau kuartal II/2021.

Kenaikan harga ini disebabkan faktor cuaca yakni intensitas curah hujan yang tinggi sehingga sumplai tangkapan ikan dari nelayan mengalami penurunan. Bahkan ikan-ikan yang sebelumnya banyak dijumpai di pasar kini menjadi langka.

Akan tetapi, hal ini tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Direktur Operasional Perum Perindo Raenhat Tiranto Hutabarat mengatakan, Perum Perindo telah menyiapkan solusi dengan bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

“Solusinya, kami akan bekerja sama dengan Kementerian Kelautan & Perikanan ataupun kementerian teknis lainnya seperti Kementerian Koperasi dan UKM RI, Kementerian Perdagangan sebagai strategi buffer stock ikan melalui prasarana penyimpanan penyangga hasil produksi ikan yang ada. Hal ini diharapkan sebagai patokan stabilitas harga ikan ke depannya,” kata Raenhat.

Dia menambahkan dalam upaya stabilitas harga ikan ini, Peerum Perindo telah bersinergi dengan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komodoti (Bappebti) yang berada di bawah naungan Kementerian Perdagangan, untuk Sistem Resi Gudang (SRG) yaitu sebagai off taker hasil serapan nelayan yang kami tampung melalui penyimpanan ikan atau skema buffer stock.

Proses sistem resi gudang tersebut disinergikan juga melalui Badan Layanan Umum (BLU) Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan. Skema penyerapan ikan lainnya Perum Perindo juga kerap bersinergi dengan Kemenko Maritim dan Investasi untuk strategi serapan ikan nelayan melalui sistem aplikasi lelang online agar produksi serapan ikan nelayan terus bertambah dan kebutuhan pangan ikan untuk masyarakat dapat terpenuhi.

Saat ini, harga ikan terkatrol 14 persen hingga 25 persen. Bahkan ada kelangkaan ikan tertentu seperti ikan kembung, ikan cakalang, ikan kuwe dan ikan baby tuna. Hal ini lantaran susahnya nelayan mendapatkan jenis ikan tersebut.

Menilik ke harga komoditas hasil laut, peningkatan tajam terdapat pada jenis udang, cumi dan kepiting sebesar 25%. Adapun harga udang yang biasanya Rp 120.000/kg menjadi Rp 160.000/kg. Harga cumi dan dari Rp 60.000/kg menjadi Rp 80.000/kg.

Selanjutnya harga ikan tongkol naik 14% dari Rp 21.000/kg menjadi Rp 24.000/kg, harga ikan bandeng naik 16% dari Rp 25.000/kg menjadi Rp 30.000/kg. Harga ikan tenggiri lompat 18% dari Rp 53.000/kg menjadi Rp 65.000/kg.

Sementara itu, harga ikan bawal yang semula Rp 50.000/kg menjadi Rp 55.000/kg. Adapun ikan kembung yang biasanya Rp 25.000/kg menjadi Rp 35.000 hingga Rp 40.000/kg.

Kendati demikian, permintaan terhadap ikan kembung mengalami kenaikan yang signifikan. Hal ini terlihat dari adanya permintaan ekspor dari Thailand untuk periode Maret 2021. Thailand telah memesan ikan kembung sebanyak 156 ton senilai 347.800 dollar kepada Perum Perindo.

BERITA TERKAIT

ads-sidebar
ads-custom-4

BACA JUGA

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU