Jumat, 19 April 2024

Pupuk Indonesia Grup Capai 3,1 Juta Ton Volume Produksi di Kuartal I 2020

ads-custom-5

Jakarta, BUMNInfo | PT Pupuk Indonesia (Persero) membukukan pertumbuhan produksi produk pupuk sebesar 14,15 persen yakni 3.104.341 ton sepanjang kuartal I 2020. Total produksi tersebut terdiri dari 2.070.140 ton Urea, 688.196 ton NPK, 132.473 ton SP-36, 212.262 ton ZA, dan 1.270 ton ZK. Angka ini meningkat dibandingkan periode sama tahun lalu yang hanya sebesar 2.664.924 ton.

 

Menurut Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Aas Asikin Idat, pertumbuhan itu disebabkan kondisi pabrik yang dapat beroperasi secara optimal dengan rate yang cukup tinggi.

 

“Kinerja produksi kami selalu menunjukan pertumbuhan disetiap tahunnya, terutama sejak berbagai upaya transformasi yang dicanangkan sejak 2017. Peningkatan volume produksi salah satunya juga disebabkan pengoperasian pabrik Amurea II yang mulai komersil sejak Agustus 2018,” jelas Aas dalam siaran pers.

 

Ia menegaskan, produksi Pupuk Indonesia diprioritaskan untuk pasokan pupuk untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, khususnya untuk sektor tanaman pangan.

 

“Bila kebutuhan untuk subsidi dan sektor pangan dalam negeri sudah terpenuhi dan stoknya dipastikan aman, baru kita akan menjual hasil produksi ke sektor komersil maupun ekspor,” ungkapnya.

 

Sampai saat ini, kapasitas produksi Pupuk Indonesia telah mencapai 14.012.500 ton per tahun untuk segala jenis pupuk, dengan rincian 9.362.500 untuk jenis ton Urea, 3.380.000 ton NPK, 500.000 ton SP-36, 750.000 ton ZA dan 20.000 ton ZK.

 

Di luar itu, produksi non pupuk Perseroan juga mengalami peningkatan di tiga bulan pertama tahun ini. Tercatat, produksi non pupuk mencapai 1.872.026 ton, lebih tinggi dibanding produksi periode sama tahun lalu yang sebesar 1.504.810 ton.

 

Aas menandaskan, berkat langkah transformasi bisnis yang telah dilakukan, kini biaya produksi pupuk dapat lebih efisien.

 

Misalnya dalam hal efisiensi pemakaian bahan baku, sepanjang tahun 2019 emiten itu mencatatkan realisasi rasio konsumsi gas untuk urea sebesar 27,56 mmbtu/ton, lebih efisien dari rencana 28,28 mmbtu/ton. Sementara rasio konsumsi gas untuk amoniak sebesar 35,92 mmbtu/ton yang juga lebih efisien dari rencana sebesar 36,05 mmbtu/ton.

 

“Efisiensi ini penting dalam mengurangi beban pemerintah atas subsidi, termasuk untuk peningkatan daya saing produk Pupuk Indonesia Grup,” tutupnya.

 

Sumber: Pupuk IndonesiaBisnis.com

Foto: Antara

BERITA TERKAIT

ads-sidebar
ads-custom-4

BACA JUGA

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU