Rabu, 19 Juni 2024

Kimia Farma Boyong 10.000 Boks Alat Rapid Test dari Belanda

ads-custom-5

Jakarta, BUMNInfo | PT Kimia Farma (Persero) Tbk telah mengimpor sebanyak 10.000 paket rapid test dari Belanda untuk mendeteksi Covid-19. Alat yang bermerek Biozek tersebut dikirim ke Indonesia melalui jalur special access scheme.

 

Direktur Utama Kimia Farma Verdi Budidarmo menyatakan, pihaknya telah mendistribusikan sebagian besar alat itu langsung ke fasilitas layanan Kesehatan dan sebagian lainnya untuk didonasikan. Ia menegaskan alatnya tak akan didistribusikan di pasaran luas, mengingat adanya regulasi tentang cara distribusi obat yang baik dan benar (CDOB).

 

“Dari jumlah tersebut, sebanyak 6.500 box sudah didistribusikan ke fasilitas layanan Kesehatan, laboratorium pemeriksaan Covid-19, dan dinas Kesehatan berbagai tingkat. (Alat) rapid test tidak didistribusikan melalui ritel dan perorangan ataupun online sesuai dengan regulasi,” klaim Verdi.

 

Kimia Farma juga telah menyediakan fasilitas pemeriksaan cepat dan PCR melalui laboratorium klinik milikinya, PT Kimia Farma Diagnostik. Dimulai sejak pekan lalu, kata Verdi, laboratorium sudah bisa melakukan pemeriksaan sekaligus melakukan importasi obat avigan tablet.

 

“Tempat ini sudah bekerja sama dengan rumah sakit rujukan Covid-19 dan instansi kesehatan, jadi kerjasama dengan Labkesda Provinsi DKI Jakarta. Kami juga melakukan importasi obat avigan tablet,” imbuhnya.

 

Tak hanya mendatangkan alat tes dan pemeriksaan lab Covid-19, Verdi memastikan saat ini emiten berkode saham KAEF itu terus berupaya untuk mengembangkan obat yang dibutuhkan dalam penangangan Covid-19. Ada beberapa jenis obat yang digunakan sebagai alternatif pengobatan Covid-19 meliputi Remdesivir, Favipiravir, Chloroquin, Hydroxy Chloroquin, dan Lapinavor Ritonavir.

 

Ia menjelaskan, perusahaan farmasi ini sedang melakukan kajian lebih lanjut untuk Remdesivir dan Favipiravir. Dalam pengembangan bahan baku obat, perusahaan ini juga meminta dukungan lantaran ada beberapa tantangan yang harus dihadapi oleh KAEF dari hulu hingga hilir, misalnya penggunaan tingkat kandungan dalam negeri.

 

“Dan di hulu adalah kaitannya dengan ketergantungan bahan baku obat, ini kan juga dari bahan kimia dasar, jadi pengembangan in dustri kimia dasar juga sangat diperlukan,” pungkasnya.

 

Sumber: Kontan.co.idSindonews

Foto: YONHAP NEWS

BERITA TERKAIT

ads-sidebar
ads-custom-4

BACA JUGA

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU