Jumat, 1 Maret 2024

Update Utang Kereta Cepat! Nambah Rp8T, Masa Konsesi Diperpanjang 80 Tahun?

ads-custom-5

Jakarta, BUMN Info l Masalah yang melanda Kereta Cepat Jakarta Bandung masih terus berlanjut. Hingga kini kabar terbaru ternyata jumlah utang kereta cepat pun masih terus bertambah. Menurut perhitungan Wakil Menteri BUMN kemungkinan tambahan utang yang dilakukan ke CDB jumlahnya mencapai US$ 550 juta atau sekitar Rp8,5 triliun. Angka itu didapatkan dari porsi pinjaman sebesar 75% dari total biaya bengkak US$ 1,2 miliar.

Lalu kenapa PT KCIC harus menambah utang lagi?

Utang tersebut dilakukan untuk menambal sebagian bengkak proyek atau cost overrun dari proyek yang digarap Indonesia-China itu. Nilai cost overrun kereta cepat sendiri baru saja disepakati sebesar US$ 1,2 miliar atau sekitar Rp18 triliunan.

Staf Khusus Menteri BUMN mengatakan PT KCIC yang nantinya akan membayar utang atas pembengkakan biaya (cost overrun) proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB). KCIC adalah operator dari proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Indonesia melalui konsorsium BUMN bernama PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) mengempit 60 persen saham KCIC. Konsorsium itu terdiri dari PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, dan PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero) atau PTPN VII.

Jokowi pun buka suara soal langkah tersebut. Menurutnya, pemerintah akan mendukung transportasi massal. Termasuk juga langkah apapun untuk membuat kereta cepat Jakarta-Bandung bisa beroperasi.

Selain itu, PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) mengusulkan permohonan perpanjangan masa konsesi Kereta Api Cepat Jakarta Bandung menjadi 80 tahun. Pengertian konsesi ialah kontrak panjang yang diberikan pemerintah kepada pihak swasta sebagai imbalan atas pendanaan, pengembangan, dan pembangunan yang dilakukan terhadap fasilitas publik.

General Manager Corporate Secretary KCIC mengatakan, permohonan perpanjangan masa konsesi tersebut didasari oleh beberapa faktor. Antara lain perubahan proyeksi permintaan penumpang (demand forecast) dikarenakan dampak pandemi. Lalu faktor lainnya, perubahan total biaya proyek setelah adanya cost overrun, perpanjangan waktu askontruksi, perubahan skema bisnis non farebox, dan berbagai faktor lainnya.

Sumber: finance.detik.com, headtopics.com

BERITA TERKAIT

ads-sidebar
ads-custom-4

BACA JUGA

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU