Selasa, 16 Juli 2024

Masih Ditekan Pandemi, BUMN Lanjutkan Proyek Strategis Nasional

ads-custom-5

Pandemi virus corona atau Covid-19 yang melanda sejak Maret lalu berdampak sangat serius ke sektor perekonomian. Pasalnya akibat harus menjalankan protokol pencegahan penyebaran virus seperti physical distancing dan work from home (WFH), kegiatan bisnis yang membutuhkan interaksi dengan banyak orang harus tertahan sementara waktu.

 

Salah satu yang menjadi perhatian adalah proyek pembangunan. Sejumlah perusahaan yang melangsungkan proyek harus memutar otak untuk tetap melanjutkan pekerjaan tanpa mengorbankan kesehatan pegawainya.

 

Kendati pandemi belum terlihat menyurut, Presiden Joko Widodo memastikan proyek strategis nasional tetap berjalan di tengah pandemi Covid-19. Tentunya sesuai dengan standar protokol kesehatan dunia untuk mencegah munculnya klaster penyebaran Covid-19 yang baru.

 

Hal ini disampaikan dalam rapat pagi ini, Jumat (29/5). Presiden mengatakan akan mengevaluasi proyek strategis nasional (PSN) dalam rangka pemulihan ekonomi dampak Covid-19.

 

“Walaupun saat ini kita tengah menghadapi pandemi, tetapi agenda strategi yang sangat penting bagi bangsa dan negara kita menjadi prioritas, tidak boleh berhenti dan tetap harus dilanjutkan,” ujarnya.

 

Berikut sejumlah PSN yang masih terus berjalan di tengah pandemi Covid-19.

 

Jalan Tol Trans Sumatera

Ilustrasi Jalan Tol Trans Sumatera. Foto: Istimewa
Ilustrasi Jalan Tol Trans Sumatera. Foto: Istimewa

Di tengah pandemi, pemerintah akan segera mengoperasikan dua ruas jalan tol yang merupakan jaringan Tol Trans Sumatera. Kedua jalan tol tersebut yakni jalan tol Banda Aceh – Sigli seksi 4 Indrapuri-Blang Bintang sepanjang 14 Kilometer, dan Jalan Tol Ruas Pekanbaru – Dumai sepanjang 131 Kilometer, yang saat ini sedang dalam proses uji laik fungsi.

 

Kedua ruas yang masuk ke dalam PSN itu telah rampung dibangun pada Mei lalu. Sementara proyek Trans Sumatera lain yang masih on-going adalah ruas Medan-Binjai seksi 1 Tanjung Mulia-Helvetia sepanjang 6 km yang ditargetkan selesai pada pertengahan tahun mendatang. Juga ada proyek tol Kuala Tanjung-Parapat dengan rincian progres konstruksi seksi 1 Tebing Tinggi-Indrapura telah mencapai 67%. Sementara, pada seksi 2 Indrapura-Kuala Tanjung mencapai 36%, seksi 3 Tebing Tinggi-Serbelawan mencapai 41% dan seksi 4 Serbelawan-Pematang Siantar mencapai 26%.

 

PT Hutama Karya (Persero) atau HK selaku kontraktor dan pemegang hak konsesi dari seluruh ruas Jalan Tol Trans Sumatera terus menggenjot pembangunan, meski virus Covid-19 masih belum bisa diredam. Hal ini HK lakukan sebagai langkah pemulihan ekonomi nasional. Sebab, keberadaan infrastruktur seperti jalan tol akan jadi salah satu tumpuan agar dapat dengan cepat mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

 

Apalagi setelah HK menerima dana penyertaan modal negara (PMN) dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2020 dari Kementerian Keuangan. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengucurkan dana PMN tambahan sebesar Rp 7,5 triliun untuk HK. Sehingga di tahun ini HK menerima total Rp 11 triliun.

 

Senior Executive Vice President (SEVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya Muhammad Fauzan mengatakan, seluruh dana PMN tersebut akan dimanfaatkan untuk melanjutkan pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) di beberapa ruas seperti Pekanbaru-Dumai sepanjang 131 km senilai Rp 2 triliun, ruas Sp Indralaya-Muara Enim sepanjang 119 km senilai Rp 3,2 triliun, ruas Pekanbaru-Pangkalan sepanjang 95 km senilai Rp 4,3 triliun, dan menutup pembiayaan ruas tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung sepanjang 189 km senilai Rp 1,5 triliun yang pembangunannya telah selesai.

 

“PMN dapat memperkuat perusahaan dalam menyelesaikan tugas yang diamanatkan pemerintah dalam pembangunan dan pengembangan JTTS sepanjang 2.765 km yang terbentang dari Lampung hingga Aceh,” ujar Fauzan.

 

Ia menambahkan bahwa hingga saat ini sepanjang lebih kurang 500 km ruas tol di JTTS sudah terbangun dengan 368 km ruas tol yang telah beroperasi penuh.

 

Trans Sumatera mulai dibangun oleh HK pada 2015 silam. Diperkirakan jalan tol penghubung utara dan selatan Sumatera itu sudah bisa beropersi penuh pada 2024 mendatang. Total biaya yang dibutuhkan untuk membangunnya mencapai Rp 476 triliun.

 

LRT Jabodebek

Pembangunan LRT Jabodebek yang dilaksanakan oleh PT Adhi Karya (Persero) Tbk. Foto: Istimewa
Pembangunan LRT Jabodebek yang dilaksanakan oleh PT Adhi Karya (Persero) Tbk. Foto: Istimewa

Proyek Light Rail Transit (LRT) Jabodebek yang termasuk PSN pemerintah telah berprogres sebesar 71,2% hingga awal Juni ini. Untuk rincian progress pada setiap lintas pelayanannya yakni lintas pelayanan 1 Cawang-Cibubur 85,7%, lintas pelayanan 2 Cawang-Kuningan-Dukuh Atas 65,9%, dan lintas layanan 3 Cawang-Bekasi Timur 64,8%.

 

Kendati masih terus melakukan pengerjaan di tengah pandemi, namun PT Adhi Karya (Persero) Tbk memproyeksikan penyelesaian pembangunan LRT Jabodebek mundur hingga 2022. Padahal sebelumnya, proyek tersebut ditargetkan dapat beroperasi secara penuh pada November 2021.

 

Direktur Operasi 2 Adhi Karya Pundjung Setya Brata menjelaskan keterlambatan penyelesaian proyek dipengaruhi oleh pembatasan seperti protokol physical distancing sejak awal Maret lalu. Akibatnya, pembebasan lahan untuk depo juga mundur.

 

“Kami sempat mengalami penurunan produktivitas,” ujar Pundjung dilansir dari Kontan.co.id, Kamis (4/6).

 

Dengan berbagai perhitungan, ia memperkirakan ADHI baru akan merampungkan seluruh sistem persinyalan dan hal-hal yang terkait dengan teknis pengoperasian kereta ringan lintas metropolitan itu pada Maret 2022.

 

Tak sampai situ, LRT masih harus menempuh uji coba selama tiga bulan yang dilakukan langsung oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI selaku pengendali operasionalnya kelak. Karenanya, kemungkinan LRT Jabodebek baru akan beroperasi penuh pada Juni 2022.

 

Menyongsong era new normal yang telah disosialisasikan oleh pemerintah, Pundjung yakin emiten berkode saham ADHI tersebut mampu berkinerja penuh lagi untuk mengkomplitkan proyek.

 

“Dengan sudah adanya normal baru diharapkan bisa mulai lagi dengan kecepatan penuh mulai Juli,” harapnya.

 

Sementara itu, KAI yang juga digelontori dana talangan sebesar Rp 3,5 triliun dari pemerintah dalam program PEN 2020 juga akan memanfaatkannya untuk penggeberan proyek LRT Jabodebek.

 

Kilang Migas Pertamina 

Ilustrasi kilang minyak PT Pertamina (Persero). Foto: Portonews
Ilustrasi kilang minyak PT Pertamina (Persero). Foto: Portonews

Di sektor migas, proyek Gas Processing Facility (GPF) Lapangan Unitisasi Gas – Jambaran Tiung Biru (JTB), Bojonegoro, Jawa Timur, milik PT Pertamina EP Cepu (PEPC) juga masuk sebagai PSN. Pembangunan yang digarap oleh anak perusahaan PT Pupuk Indonesia (Persero) yakni PT Rekayasa Industri (Rekind) ini juga tak disetop meski pandemi masih melanda negeri.

 

Dilansir dari Bisnis.com, belum lama ini PT Rekind berhasil mencapai milestone penting dalam proyek, yaitu pengangkatan Heavy Equipment Selexol dan Regenerator Proyek GPF tersebut dengan total berat 760 ton. Sehingga kemajuan pekerjaan proyek JTB pada Mei 2020 telah mencapai 64,2% dengan target penyelesaian pada Juli 2021 nanti.

 

Direktur Utama PT Rekind Yanuar Budinorman mengatakan, pembangunan PSN yang sesuai dengan arahan pemerintah, merupakan suatu tantangan tersendiri bagi PT Rekind yang merupakan Kontraktor EPC Nasional. Ditambah proyek ini tidak bisa terhenti karena pandemi.

 

“Sebuah kebanggaan bagi PT Rekind dapat berperan besar dalam mengantarkan proyek strategis nasional milik negara untuk mencapai target yang ditentukan. Kami sangat bersyukur atas capaian ini, meski tim proyek harus berjuang di tengah tantangan wabah Covid-19,” jelas Yanuar.

 

PT Rekind juga mengklaim telah memiliki progres yang signifikan dalam pembangunan PSN lainnya, seperti dalam proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan. Dalam pengerjaan proyek milik PT Pertamina (Persero) itu, PT Rekind tergabung melalui joint operation (JO) bersama tiga perusahaan EPC dari dalam dan luar negeri yaitu PT Pembangunan Perumahan (PP), Hyundai Engineering Co., Ltd. (HEC) dan SK Engineering & Construction Co., Ltd. (SKEC).

 

Meski harus menerapkan protokol kesehatan secara ketat dalam pelaksanaan proyeknya, namun Yanuar menyatakan perusahaan sangat bangga karena pembangunan RDMP Balikpapan mampu mencapai progress 16,32% pada akhir Mei 2020. Sebagai informasi, RDMP Balikpapan merupakan proyek yang vital bagi Pertamina karena dapat meningkatkan kapasitas kilang Balikpapan menjadi 360.000 barel dari kapasitas sebelumnya 260.000 barrel jika sudah beroperasi penuh.

 

Selain itu juga akan meningkatkan volume produk yang dihasilkan kilang Balikpapan. Di antaranya produksi solar sebesar 23% atau 30.000 barel per hari, gasoline menjadi 100.000 barel per hari dan LPG menjadi 1.500 ton per hari, selain itu Kilang Balikpapan juga akan menghasilkan produk baru propilen sebesar 230.000 ton per tahun.

 

Kawasan Ekonomi Eksklusif dan Pariwisara Mandalika

Pembangunan Sirkuit MotoGP di Mandalika, Nusa Tenggara Barat. Foto: Istimewa
Pembangunan Sirkuit MotoGP di Mandalika, Nusa Tenggara Barat. Foto: Istimewa

Di sektor ekonomi pariwisata, PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) berkomitmen untuk terus menjalankan pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika Lombok, Nusa Tenggara Barat.

 

Saat ini pengembangan dalam tahap pematangan sistem dan prosedur mitigasi bencana di Kawasan Pariwisata The Mandalika, sebagai bagian dari pengelolaan kawasan yang termasuk ke dalam 5 Destinasi Super Prioritas di Indonesia, dan khususnya menyambut fase new normal pariwisata. Salah satunya dengan memaksimalkan pembangunan proyek saluran pengendali banjir barat The Mandalika.

 

Pelaksanaan proyek ini merupakan kerjasama ITDC dengan Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara I dan bekerjasama dengan kontraktor PT Mari Bangun Nusantara dan PT Bangun Mitra Anugerah Lestari dalam rangka menyalurkan aliran air Sungai Ngolang dan Balak. Selama ini sungai tersebut menjadi penyebab banjir di beberapa ruas jalan provinsi di area desa penyangga The Mandalika, yakni Desa Kuta menuju Desa Mertak. Saluran pengendali banjir ini nantinya akan memiliki panjang 5 km dan bermuara di laguna The Mandalika.

 

Managing Director The Mandalika I Wayan Karioka mengatakan, proyek pembangunan saluran ini merupakan salah satu bentuk kesiapsiagaan ITDC dalam mengantisipasi bencana banjir di kawasan The Mandalika dan sekitarnya yang sering terjadi di musim penghujan, sekaligus menyambut fase new normal pembukaan kembali kawasan pariwisata The Mandalika.

 

“Pembangunan saluran ini juga merupakan upaya kami, sebagai pengelola kawasan, dalam mengembangkan kawasan pariwisata terintegrasi dengan infrastruktur yang lengkap,” ujar Karioka.

 

Saat ini proyek pembangunan telah menunjukkan progres sebesar 19% dari target 12% sampai akhir Juni ini. Kepala Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara I Hendra Ahyadi menjelaskan bahwa tercapainya progres yang melebihi target ini disebabkan penerapan program padat karya sebagai upaya Pemerintah untuk menanggulangi meningkatnya pengangguran akibat PHK yang disebabkan dampak dari penyebaran Covid -19.

 

“Proyek pembangunan saluran pengendali banjir ini berlangsung selama 2 bulan, dimulai bulan Juni hingga bulan Juli, dengan menyerap tenaga kerja sebesar 34 orang,” ungkap Hendra.

 

Sejumlah proyek strategis nasional di atas yang melanjutkan pembangunannya di tengah pandemi tentu berharap akan terus berprogres hingga rampung sesuai dengan target yang ditetapkan. Kendati begitu, seluruh pihak tetap memperhatikan protokol kesehatan yang ada, mulai dari screening kesehatan bagi pegawai, penerapan physical distancing, hingga penyemprotan disinfektan secara rutin. Hal ini untuk menekan penyebaran Covid-19 sekaligus memulihkan kembali ekonomi nasional. (MI)

BERITA TERKAIT

ads-sidebar
ads-custom-4

BACA JUGA

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU