Sabtu, 22 Juni 2024

Peruri cetak 520 Juta Bilyet Mata Uang Peru

ads-custom-5

Jakarta, BUMNInfo | Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri) berhasil memenangi tender untuk mencetak 520 juta bilyet (lembar) uang kertas nueva sol, mata uang Peru, negara di belahan Amerika Selatan.

Proyek itu senilai 16,5 juta euro atau setara Rp 255 miliar. Proses pencetakan akan dimulai pertengahan 2020.

”Dari empat pecahan mata uang yang ditenderkan, tiga pecahan kami menangi dengan selisih harga yang cukup kompetitif,” kata Direktur Pengembangan Usaha Perum Peruri Fajar Rizki, Rabu (8/1/2020).

Sebelumnya, Peruri memenangi tender pencetakan uang Nepal 630 juta lembar uang kertas pada periode 2015-2016, selain membantu mencetak pita cukai dan prangko.

Pada 2015, Peruri mencetak 33 juta prangko untuk Filipina dan 2,5 juta buku paspor untuk Sri Lanka. Sementara pada 2018, Peruri mencetak 5 miliar pita cukai untuk Pakistan.

Saat ini, Peruri tengah menjajaki kerja sama pencetakan uang dengan Kerajaan Eswatini di Afrika Selatan. Sebagai perusahaan percetakan uang terbesar di dunia, Peruri terus melebarkan sayap bisnis pencetakan uang di berbagai belahan dunia.

Menurut Fajar, bisnis pencetakan uang masih menjanjikan. Laporan ”The Future of Banknotes to 2023” oleh Smithers Spira, nilai pasar uang kertas global diperkirakan tumbuh 2,7-3,2 persen dalam periode 2018-2023. Smithers Spira adalah otoritas dunia dalam rantai pasokan industri pengemasan, kertas, dan cetak.

Asia dan Afrika menjadi wilayah dengan pertumbuhan tertinggi karena kebutuhan pencetakan uang yang masih berkembang.

Sedangkan, laporan World Payments Report 2019 mengungkapkan, adanya pertumbuhan sirkulasi uang tunai (Cash-In-Circulation/CIC) yang lebih tinggi dibandingkan dengan volume transaksi nontunai.

Selama periode 2013-2017, sirkulasi uang tunai meningkat dari 4 menjadi 7 persen per tahun. Laporan ini dikeluarkan oleh perusahaan konsultan asal Perancis Capgemini yang menganalisis lebih dari 30 persen negara di dunia.

Meski begitu, Peruri tak luput dari deraan disrupsi di tengah perkembangan teknologi digital dan informasi. Namun, perusahaan pelat merah ini tidak tinggal diam dengan mulai bermain di layanan sekuriti digital.

”Industri percetakan ini kalau enggak cepat-cepat masuk ke bisnis digital akan terdisrupsi,” ujar Fajar.

 

Sumber : interaktif.kompas.id

Foto : KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

BERITA TERKAIT

ads-sidebar
ads-custom-4

BACA JUGA

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU