Rabu, 12 Juni 2024

Bio Farma, Produsen Vaksin Indonesia Berkelas Dunia

ads-custom-5

Baru-baru ini Bio Farma ditunjuk untuk menjadi induk dari holding BUMN farmasi yang dibentuk pada awal tahun ini. Bersama dengan PT Kimia Farma Tbk dan PT Indofarma Tbk, Bio Farma bercita-cita untuk mendorong anggota holding BUMN farmasi yang lebih mandiri, baik dalam hal penelitian maupun produksi produk – produknya.

Selain itu perusahaan juga mendorong anggota holding untuk menerapkan produksi dan quality management system untuk mendapatkan Pre-Qualification WHO (PQ WHO). Dengan PQ-WHO, diharapkan Kimia Farma Tbk, dan Indofarma Tbk juga dapat menembus pasar global, serta membantu anggota holding BUMN farmasi untuk menjadi pemain dunia, mengingat saat ini, produk Bio Farma sudah digunakan di lebih dari 140 negara di dunia dan menembus pasar di negara – negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI).

Direktur Utama PT Bio Farma Honesti Basyir mengatakan, pembentukan holding ini diharapkan dapat membantu penyebaran produk farmasi secara merata ke seluruh pelosok negeri. Selain itu, juga untuk menumbuhkan inovasi dari anggota holding farmasi, dalam menciptakan suatu produk baru.

“Pembentukan holding farmasi ini ditujukan untuk menguatkan kemandirian industri farmasi, meningkatkan ketersediaan produk, dan menciptakan inovasi bersama untuk penyediaan produk farmasi. Di samping untuk menurunkan impor bahan baku farmasi,” papar Honesti.

“Sinergi dari tiga BUMN yang tergabung dalam holding farmasi ini, dapat menurunkan impor bahan baku farmasi atau Active Pharmaceutical Ingredients (API). Saat ini, lebih dari dari 90 persen bahan impor farmasi masih didatangkan dari luar negeri,” tambahnya.

Bio Farma yang Sering Berganti Nama

kantor bio farma

PT Bio Farma (Persero) Tbk merupakan badan usaha milik negara (BUMN) di bidang farmasi dengan spesialisasi sebagai produsen vaksin dan antisera. Perkembangannya, saat ini Bio Farma menjadi perusahaan Life Science. Didirikan pada 1890, Bio Farma telah memproduksi berbagai vaksin dan antisera yang didistribusikan dan dipakai oleh lebih dari 130 negara terutama negara-negara berkembang dan 50 diantaranya merupakan negara yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Produksi vaksin dan antiseri Bio Farma telah diakui memenuhi standar oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan mendapatkan pra kualifikasi dari World Health Organization (WHO).

BUMN yang sudah eksis selama 130 tahun ini memiliki kapasitas produksi lebih dari 3,2 miliar dosis per tahun dan diklaim telah memenuhi kebutuhan vaksin nasional juga dunia melalui WHO dan UNICEF. Dengan filosofi “Dedicated to Improve Quality of Life”, Bio Farma dinilai berperan aktif meningkatkan ketersediaan dan kemandirian produksi vaksin di negara-negara berkembang dan negara-negara Islam untuk menjaga keamanan kesehatan global (global health security).

Bio Farma mulanya diberi nama Parc Vaccinogene. Didirikan pada tanggal 6 Agustus 1890 berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Hindia Belanda Nomor 14 tahun 1890 di Rumah Sakit Militer Weltevreden, Batavia, yang saat ini telah berubah fungsi menjadi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto (RSPAD Gatot Soebroto), Jakarta.

Bio Farma kemudian sering berganti nama hingga delapan kali. Selama masa pendudukan Belanda, nama perusahaan berganti dari Parc Vaccinogene en Instituut Pasteur pada 1895, hingga Landskoepoek Inrichting en Instituut Pasteur pada 1902, ketika Bio Farma mulai berkantor di Jalan Pasteur, Bandung.

Setelah Indonesia dijajah Jepang, pada 1942 perusahaan berganti nama kembali menjadi Bandung Boeki Kenkyushoo yang dipimpin oleh Kikuo Kurauchi. Selesai diduduki Jepang pada 1945, perusahaan berganti nama menjadi Gedung Cacar dan Lembaga Pasteur yang dipimpin oleh pemimpin berdarah Indonesia pertamanya, R.M. Sardjito. Pada saat kepemimpinan R.M. Sardjito, lokasi sempat dipindahkan ke daerah Klaten.

Agresi Militer Belanda pada 1946 membuat Bio Farma kembali disebut sebagai Landskoepoek Inrichting en Instituut Pasteur. Terlebih saat itu Bandung, kota kantor pusat Bio Farma juga tak luput dari pantauan tentara Belanda.

Agresi militer pungkas, perusahaan kembali berganti nama menjadi Gedung Cacar dan Lembaga Pasteur yang merupakan salah satu jawatan dalam lingkungan Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pada masa nasionalisasi kepemilikan perusahaan Belanda di Indonesia, sekitar 1955 – 1960, perusahaan kemudian berganti nama lagi menjadi Perusahaan Negara Pasteur atau lebih dikenal sebagai PN. Pasteur.

Setelahnya, yakni 1961, perusahaan akhirnya diberi nama Bio Farma, namun masih berupa perusahaan negara. Hingga pada 1997, berdasarkan Peraturan Pemerintah, Bio Farma menjadi Perusahaan Perseroan sampai saat ini, dengan kepemilikan saham 100% oleh pemerintah.

Pada 1997, Bio Farma berhasil mendapatkan Pra-Kualifikasi WHO untuk 12 jenis vaksin sehingga bisa memasuki pasar ekspor. Dengan terbukanya peluang dagang internasional, roadmap Bio Farma menuju industri life science dimulai pada 2013. Ditandai dengan peluncuran vaksin terbaru Pentavalent untuk mengatasi penyakit difteri, tetanus, pertusis, hepatitis B dan HiB, serta pencanangan program imunisasi skala nasional.

Kiprah Bisnis Bio Farma

bio farma obatDalam perkembangannya, kegiatan usaha Bio Farma yang dijalankan meliputi penelitian dan pengembangan produk biologi dan produk farmasi. Kemudian memproduksi produk biologi dan produk farmasi, baik dilakukan sendiri maupun kerjasama dengan pihak lain.

Selain itu Bio Farma juga berfokus pada pemasaran, perdagangan dan distribusi produk biologi, farmasi, alat kesehatan, termasuk barang umum, baik di dalam maupun di luar negeri, serta menyediakan fasilitas pelayanan laboratorium kesehatan dan klinik.

Sementara kegiatan usaha penunjang yang ada meliputi layanan laboratorium mikrobiologi industri, layanan vaksinasi korporasi dan umum, serta layanan apotek Bio Farma.

Terakhir, dimulai pada 2020 ini, Bio Farma menjadi induk holding dari tiga BUMN farmasi, dengan PT Kimia Farma dan PT Indofarma sebagai anggotanya. Pembentukan holding ini menurut Honesti, dimaksud untuk menciptakan efisiensi dan kepastian ketersediaan bahan baku, sehingga akan dihasilkan harga produk yang terjangkau dan akan meningkatkan skala bisnis.

“Pembentukan holding BUMN farmasi ini merupakan salah satu milestone dalam rangka pembentukan ekosistem healthcare di Indonesia, sehingga dari hulu ke hilirnya dapat dikelola semua dengan baik,” tukas Honesti dalam keterangan tertulisnya.

Adapun Bio Farma, selain sebagai perusahaan holding, tetap fokus pada bisnis utama saat ini yaitu sebagai produsen vaksin dan antisera, dengan adanya manajemen tersendiri yang fokus kepada sektor tersebut sebagai operating holding.

 

Sumber: Bio Farma

Foto: ANTARA/Raisan Al Farisi & Bio Farma

BERITA TERKAIT

ads-sidebar
ads-custom-4

BACA JUGA

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU