Rabu, 21 Februari 2024

Tol Laut dan BUMN yang Menjadi Operator

ads-custom-5

Pemerintah mengatakan akan terus melakukan penyediaan infrastruktur konektivitas, khususnya ke daerah yang masih sulit diakses. Pasalnya, biaya logistik Indonesia hingga kini masih tertinggi di Asia Tenggara, jumlahnya mencapai 23,5% dari PDB.

 

“Pekerjaan rumah yang tersisa kini tinggal menurunkan biaya logistik. Biaya logistik Indonesia saat ini masih 23,5% dari PDB. Angka ini masih tertinggi di antara negara-negara Asia Tenggara. Biaya logistik ini harus dipangkas,” tulis Laporan Tahunan Pemerintah Jokowi-Ma’ruf 2020.

 

Untuk itu Pemerintah terus menggarap dan mengevaluasi program Tol Laut. Konsepnya sendiri bukanlah membangun jalan tol di atas laut. Mengutip dari Kompas.com, tol laut merupakan istilah untuk sistem distribusi logistik menggunakan kapal besar yang menghubungkan pelabuhan di jalur utama atau rute utama. Di Indonesia sendiri, rute utama tol laut adalah Nanggroe Aceh Darussalam, Jakarta, Surabaya, Nusa Tenggara, Maluku, sampai Papua.

 

Sedangkan distribusi ke kepulauan lain menggunakan kapal-kapal lebih kecil dibanding dengan armada di jalur utama. Bila kapal yang melintas di jalur utama tersebut rutin berlayar, maka harga kebutuhan di Papua tidak akan selisih lebih banyak dibanding di Jawa. Sedangkan di sektor darat, konsep tol laut akan dipadukan dengan jaringan rel kereta api di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.

 

Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi menyebut, pembangunan tol laut bertujuan untuk mewujudkan konektivitas. Serta kesenjangan harga antara wilayah Barat dan Timur Indonesia yang disebabkan tidak adanya kepastian ketersediaan barang. Manfaat tol laut utama adalah penurunan harga di daerah tertinggal, daerah terpencil, daerah terluar, dan daerah perbatasan. Sebab selama ini terjadi disparitas (kesenjangan) harga pada beberapa barang kebutuhan pokok.

 

Dengan adanya kapal-kapal reguler yang menjadi trayek tol laut, biaya transportasi angkutan turun untuk komoditas. Selama 2018, harga barang-barang juga turun pada beberapa lokasi sampai 20% hingga 30% dibandingkan sebelum adanya tol laut. Penurunan harga komoditas ini baru terjadi di wilayah sekitar pelabuhan. Tetapi harga barang di wilayah pedalaman seperti pegunungan masih tinggi.

 

Kesimpulannya, manfaat tol laut adalah untuk mewujudkan Nawacita pertama, yaitu memperkuat jati diri bangsa Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia. Kemudian untuk meratakan ketersediaan komoditas atau barang kebutuhan pokok dan barang penting lebih terjamin di seluruh wilayah Indonesia. Ketiga, berkurangnya fluktuasi harga antar waktu dan mengurangi disparitas harga serta memfasilitasi pemasaran produk unggulan daerah. Tujuan lain adalah meningkatnya investasi di daerah, khususnya untuk peningkatan nilai tambah sebagai muatan balik. Berikutnya meningkatkan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Serta meningkatkan pembangunan infrastruktur di seluruh wilayah Indonesia dan mengurangi tingkat pengangguran di Indonesia.

 

Mengutip Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN), menurut Peraturan Presiden (Perpres) RI Nomor 3 Tahun 2015 tentang perubahan atas Perpres No 43 Tahun 2014 tentang rencana kerja pemerintah tahun 2015, pembangunan tol laut termasuk dalam pengembangan ekonomi maritim dan kelautan. Pengembangan ekonomi maritim dan kelautan adalah sektor unggulan pemerintah Indonesia sejak 2015. Pembangunan kemaritiman sangat penting mengingat Indonesia adalah negara kepulauan yang kaya akan hasil laut. Pembangunan ekonomi maritim dan kelautan difokuskan pada menghubungkan pulau-pulau melalui jaringan lalu lintas nasional dan tol laut dan meningkatkan komoditi hasil laut.

 

Sebanyak enam perusahaan yang terdiri atas tiga BUMN dan tiga perusahaan pelayaran swasta ditetapkan sebagai operator yang melayani 18 trayek Tol Laut. Keenam perusahaan itu adalah PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) atau Pelni, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), PT Djakarta Lloyd (Persero), PT Mentari Sejati Perkasa (Mentari Lines), PT Pelayaran Tempuran Emas Tbk. (Temas Line), dan PT Pelangi Tunggal Ika.

 

Hingga kini, dalam Laporan Tahunan Pemerintah Jokowi-Ma’ruf 2020, Tol Laut sudah memiliki 20 trayek yang menghubungkan banyak daerah yang sulit diakses. Di tahun 2019, program Tol Laut mengangkut muatan sebanyak 245.378 ton.

 

PT Pelni sebagai salah satu BUMN operator tol laut mencatat kinerja kapal barang pada triwulan III/2020 naik 230% menjadi 2.370 Teus dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 725 Teus. Kepala Kesekretariatan Perusahaan Pelni Yahya Kuncoro menambahkan kinerja kapal barang di triwulan III 2020 juga mengalami kenaikan sebanyak 530 TEUs atau naik sebesar 29% dari 1.840 TEUs di triwulan II 2020 dengan dua trayek yang padat muatan.

 

Saat ini trayek penugasan Pelni dari tol laut sebanyak delapan trayek yang terdiri atas tiga homebase yakni Bitung, Tanjung Priok dan Tanjung Perak. Dia menjelaskan selama pandemi Covid-19, tol laut khususnya rute Surabaya-Morotai memiliki tingkat okupansi paling tinggi. Muatan balik tol laut tidak dalam keadaan kosong saat kembali dari Morotai ke Surabaya. Biasanya komoditas yang diangkut dari dan ke Morotai adalah ikan, kopra serta batang kelapa sedangkan dari Surabaya biasanya mengangkut ikan.

 Perkembangan Tol Laut

Sumber: Kompas.comDetik.com

Foto: dok. Pelni

Infografis: BUMNINFO/Nashwan Ihsan

BERITA TERKAIT

ads-sidebar
ads-custom-4

BACA JUGA

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU