Rabu, 17 April 2024

Banjir Sentimen Emiten BUMN Karya: Indeks FTSE hingga Proyek IKN Prabowo-Gibran

ads-custom-5

Jakarta, BUMN Info – Saham BUMN Karya, yakni PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI), PT PP (Persero) Tbk. (PTPP), dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) turun kelas ke kategori microcap dalam FTSE Global Equity Index periode Maret 2024. Kendati begitu, sejumlah analis memandang ketiga emiten tersebut masih memiliki prospek cerah seiring dengan komitmen Prabowo-Gibran yang akan melanjutkan proyek IKN Nusantara. Untuk diketahui, The Financial Times Stock Exchange (FTSE) adalah indeks global yang menjadi 1 dari 3 provider besar.

Indeks tersebut menyediakan tolok ukur yang inovatif, analisa dan solusi data bagi investor di seluruh dunia selama lebih dari 30 tahun. Adapun, saham yang masuk ke dalam kriteria FTSE dinilai memiliki fundamental yang kuat serta likuiditas yang baik. Alhasil, saham yang masuk indeks tersebut berpotensi menjadi pertimbangan investor, terutama investor asing.  Perubahan tersebut terjadi pada saham-saham kategori kapitalisasi besar (large cap), kapitalisasi menengah (mid cap), kapitalisasi kecil (small cap), dan kapitalisasi mikro (microcap).

Dalam hal ini, saham ADHI, PTPP, dan WIKA turun kelas dan masuk ke dalam kategori microcap bersama dengan saham lainnya, yakni ADMF, AUTO, HOKI, POWR, SMMT, INDY, KIJA, MMLP, META, PTRO, RALS, SAME, SSMS, SMSM, dan TAPG.  Sementara itu, untuk kategori large cap, saham CUAN masuk menggantikan ADRO dan MDKA yang kini keduanya masuk kategori mid cap menggantikan saham SCMA.

Adapun saham SCMA turun ke kategori small cap menggeser saham ADHI, PTPP, RALS, dan WIKA.  Dalam laporan FTSE Global Equity Index Maret 2024, tim FTSE menyebutkan perubahan ini akan berlaku efektif pada Senin, 18 Maret 2024 atau setelah penutupan perdagangan pada Jumat, 15 Maret mendatang.  Di sisi lain, perubahan tinjauan indeks dapat direvisi hingga penutupan perdagangan 1 Maret 2024, atau efektif per 4 Maret 2024 perubahan tinjauan akan dianggap final.

Perubahan berikutnya secara umum hanya akan bersifat final, dan dipertimbangkan dalam keadaan luar biasa, sesuai kebijakan serta pedoman penghitungan ulang FTSE Russell. Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka Perbesar Prospek Cerah Saham ADHI, PTPP, WIKA Tersengat Prabowo-Gibran Meski saham ADHI, PTPP dan WIKA terlempar dari indeks FTSE small cap ke indeks FTSE microcap, sejumlah analis meyakini prospek saham BUMN Karya tersebut masih prospektif seiring dengan komitmen pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto- Gibran Rakabuming Raka yang akan melanjutkan proyek IKN Nusantara.

Komitmen tersebut setidaknya tecermin dalam visi, misi, dan program Prabowo-Gibran. Dalam dokumen Visi Misi Indonesia Maju 2024, keduanya berencana melanjutkan pembangunan IKN Nusantara agar menciptakan pusat pertumbuhan baru di luar Pulau Jawa. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Vicky Rosalinda mengungkapkan, saham BUMN Karya seperti ADHI dan PTPP diproyeksikan meraih sentimen positif dari kelanjutan megaproyek IKN Nusantara.

“Diperkirakan prospek dari saham-saham tersebut cerah. Secara emiten ini berhubungan dengan pembangunan IKN, seperti BUMN Karya, produsen semen, dan real estat yang mengalami kenaikan,” ujar Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Vicky Rosalinda, dikutip Senin (19/2/2024). Vicky memandang keunggulan Prabowo-Gibran dalam bursa Pilpres 2024 telah menyengat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) beserta sektor konstruksi dan properti. Hal ini mencerminkan pasar dan investor merespons positif hasil tersebut.

“Jika Prabowo-Gibran terpilih dengan satu kali putaran, kami perkirakan saham-saham tersebut akan bergerak naik sehingga dapat mendorong kinerja emiten-emiten tersebut,” tutur Vicky. Sebagaimana diketahui, pada perdagangan Kamis (15/2) atau tepat setelah Pemilu 2024, saham terkait dengan proyek IKN Nusantara kompak menguat. Saham PTPP, misalnya, meningkat 24,44% disusul saham ADHI yang membukukan kenaikan 20,55%. Saham di sektor properti juga tidak mau ketinggalan.

Pada periode yang sama, saham PANI membukukan kenaikan sebesar 3,64%, sementara saham PWON terapresiasi 3,38%. Keunggulan Prabowo-Gibran juga membuat IHSG melonjak 1,30% menuju level 7.303,28, tepat satu hari setelah Pilpres 2024 diselenggarakan. Adapun pada penutupan perdagangan kemarin, Senin (19/2/2024) saham ADHI terpantau ambles 7,45% ke level Rp298 per saham. Meski begitu, saham ADHI dalam sepekan terakhir telah naik 4,93%. Kapitalisasi pasar emiten pelat merah tersebut tercatat menembus Rp2,51 triliun.

Saham PTPP juga terpantau anjlok 8,04% atau 45 poin ke level Rp515 per saham. Sepanjang perdagangan Senin (19/2) saham PTPP bergerak pada rentang Rp510 hingga Rp575 per saham. Dalam sepekan, saham PTPP telah melesat 25,61%. Kiwoom Sekuritas merekomendasikan trading buy untuk saham PTPP, ADHI, dan PANI dengan target harga masing-masing Rp610, Rp346, serta Rp6.050. Senada, analis NH Korindo Sekuritas Indonesia Leonardo Lijuwardi menyatakan kemenangan pasangan Prabowo-Gibran, baik dalam quick count maupun real count telah memunculkan harapan positif dari pelaku pasar. Hal ini pun mengakhiri kondisi ketidakpastian bagi para pelaku bisnis.

“Transisi mulus kemenangan pasangan nomor urut 02 adalah harapan bagi pembangunan dan situasi kepastian bisnis yang berkelanjutan,” kata Leonardo belum lama ini. Dia juga berpendapat bahwa keberlanjutan proyek strategis IKN Nusantara akan memberikan angin segar bagi sektor konstruksi yang sebelumnya tergilas pandemi Covid-19. Dengan kepastian proyek IKN terus berjalan, kinerja BUMN Karya diharapkan meningkat. “Dengan adanya harapan keberlanjutan IKN, angin segar diharapkan mampu mendongkrak kembali kinerja konstruksi BUMN seperti PTPP dan ADHI,” tuturnya.

Dalam perkembangan lain, ADHI diketahui membukukan nilai kontrak baru sebesar Rp37,4 triliun sepanjang 2023, atau naik 58% secara tahunan (year-on-year/YoY). Raihan tersebut melampaui target yang telah ditetapkan perusahaan. Pada periode yang sama, PTPP mencatatkan nilai kontrak baru sebesar Rp31,67 triliun sepanjang 2023.

Meski bertumbuh 1,54% dibandingkan dengan capaian tahun 2022, jumlah ini masih kurang dari target yang ditetapkan perusahaan yakni Rp34,5 triliun. Adapun WIKA membukukan nilai kontrak baru sebesar Rp29,1 triliun pada 2023. Pada tahun ini, perseroan menargetkan kontrak baru pada kisaran Rp25 triliun hingga Rp27 triliun dan berupaya mengoptimalkan berbagai terobosan untuk proyek di IKN Nusantara.

BERITA TERKAIT

ads-sidebar
ads-custom-4

BACA JUGA

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU