Senin, 20 Mei 2024

Tingkatkan Penggunaan EBT, PLN Lakukan Program Co-Firing

ads-custom-5

Jakarta, BUMNInfo | PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN siap menjalankan kebijakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif untuk terus melakukan transisi energi dengan mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT). Melalui semangat transformasi, PLN tidak hanya melakukan pembangunan infrastruktur pembangkit EBT baru, tetapi juga melakukan inovasi dengan mendorong pemanfaatan EBT pada pembangkit eksisting. Hal tersebut disampaikan Wakil Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo saat menerima kunjungan Menteri ESDM Arifin Tasrif di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan co-firing PLTU yang ada menggunakan biomassa, seperti yang dilakukan di PLTU Suralaya. Co-firing PLTU batubara dengan bahan bakar biomassa adalah upaya alternatif mengurangi pemakaian batubara dengan mengganti sebagian batubara dengan bahan bakar biomassa dengan tetap memperhatikan kualitas bahan bakar sesuai kebutuhan.

“Program co-firing PLTU dengan biomassa ini merupakan langkah nyata PLN untuk mendorong peningkatan EBT pada bauran energi nasional,” ucap Darmawan Prasodjo, Jumat (1/1/2021).

Khusus di PLTU Suralaya, co-firing akan dilakukan secara bertahap, mulai dari penggunaan lima persen biomassa, hingga rencana jangka panjang nantinya PLTU Suralaya diharapkan bisa penuh menggunakan biomassa. 

Selain di PLTU Suralaya, co-firing juga telah dilakukan uji coba di beberapa PLTU, antara lain PLTU Jeranjang (2×25 MW) dengan pelet sampah, PLTU Paiton (2×400 MW) pelet kayu, PLTU Rembang (2×325 MW) pelet kayu, PLTU Indramayu (3x330MW) pelet kayu, PTLU Tenayan (2×110 MW) dengan cangkang kelapa sawit, PLTU Ketapang (2×10 MW) dengan cangkang kelapa sawit, PLTU Sanggau (2×7 MW) dengan cangkang kelapa sawit, juga PLTU Belitung (2×16,5 MW) dengan cangkang kelapa sawit.

Secara keseluruhan terdapat 114 unit PLTU milik PLN yang berpotensi dapat dilakukan co-firing biomassa. Pembangkit tersebut tersebar di 52 lokasi dengan total kapasitas 18.154 megawatt (MW). Harapannya, co-firing dapat meningkatkan bauran EBT secara nasional.

Menteri ESDM, Arifin Tasrif menyambut baik upaya PLN. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan langkah positif dalam dunia pergaulan internasional. Menurutnya, itu merupakan bagian dari komitmen dunia dalam mengurangi emisi gas rumah kaca dan CO2. Indonesia punya target bauran energi 23% di tahun 2025. Ini menjadi komitmen nasional ke dunia yang harus dicapai. Meski mendorong penggunaan EBT, Arifin mengungkapkan penggunaan batubara tidak serta merta hilang dari bauran energi nasional.

“Batubara adalah simpanan kita di saat energi fosil lain habis. Ke depannya batubara tetap dipakai, hanya di mulut tambang. Jadi memang dalam proses perencanaan energi perlu melihat aspek yang lain,” tandas Arifin.

Melalui pilar green dalam transformasinya, PLN terus berkomitmen menghadirkan listrik yang ramah bagi lingkungan. Komitmen tersebut memperoleh dukungan finansial sebesar USD 500 Juta dari perbankan internasional dengan mendapatkan jaminan dari Multilateral Investment Guarantee Agency (MIGA) yang merupakan anggota dari Grup Bank Dunia. Adapun para kreditur untuk fasilitas ini antara lain adalah Citibank, DBS Bank, JPMorgan, KfW IPEX, LBBW, OCBC, Standard Chartered Bank dan SMBC.

Direktur Keuangan PLN Sinthya Roesly menjelaskan, ini merupakan transaksi pinjaman green loan pertama yang diperoleh BUMN di Indonesia dan yang pertama kali dieksekusi oleh PLN, dukungan ini akan PLN khususkan untuk pendanaan jangka panjang EBT dan infrastruktur kelistrikan yang ramah lingkungan. Melalui program perdana bertajuk Non-Honouring of Finansial Obligation by State-Owned Enterprise (NHFO-SOE), MIGA akan menjamin 95% pembiayaan selama lima tahun ke depan. Transaksi ini juga merupakan transaksi pertama MIGA dengan menggunakan skema NHFO-SOE dan merupakan transaksi pertama dalam masa pandemi baik di Indonesia maupun di regional.
 
“Dalam periode likuiditas dan pasar pinjaman yang serba sulit, PLN berhasil mengupayakan tercapainya efisiensi biaya dalam keuangan dengan menerapkan struktur yang dirancang untuk menarik kreditur internasional,” terang Sinthya.
 

Dirinya menambahkan, dukungan ini diperoleh dalam waktu yang cukup singkat, yakni hanya kurang lebih lima bulan meskipun transaksi ini merupakan transaksi PLN pertama kali untuk green loan dan MIGA Guaranteed dengan skema yang cukup kompleks. Menurutnya, penetapan harga telah dinegosiasikan dengan kreditur sejak awal Juli, setelah proses tender yang menyeluruh dengan harga sekompetitif mungkin meski di masa pandemi.

“Langkah ini merupakan tindak lanjut PLN dalam mewujudkan kerangka keuangan yang berkelanjutan (Sustainable Financing Framework) yang telah di-launching secara resmi pada 2 November 2020 lalu dan merupakan agenda nyata dari transformasi PLN (Lean, Green, Innovative & Customer Focused),” jelas Sinthya.

 

Saat ini, PLN sedang dan terus bekerja sama dengan berbagai stakeholder yaitu lembaga bilateral maupun multilateral untuk mewujudkan berbagai inisiatif green energy dan meningkatkan rasio energi baru terbarukan di seluruh Indonesia.

 kapasitas sistem kelistrikan

Sumber: RepublikaMedcom

Foto: Istimewa

Infografis: BUMNINFO/Naufal Anjani

BERITA TERKAIT

ads-sidebar
ads-custom-4

BACA JUGA

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU