Minggu, 21 April 2024

Bio Farma Hingga Garuda Indonesia Turut Andil Hadirnya Vaksin Covid-19

ads-custom-5

Sejumlah vaksin untuk memerangi virus Covid-19 mulai disetujui peredarannya di berbagai belahan dunia. Pro dan kontra bermunculan seiring respons pemerintah terkait pengadaannya di Indonesia. Presiden Indonesia Joko Widodo pun memastikan bahwa vaksinasi tak akan dipungut biaya apapun dari masyarakat atau gratis dan segera dilaksanakan pada awal 2021 nanti. Lantas apa saja jenis vaksin yang akan tersedia di Tanah Air dan bagaimana BUMN berperan untuk mendistribusikannya?

 

Seperti yang diketahui, sejak pertengahan 2020 pemerintah sudah bekerja sama dengan pihak China untuk melaksanakan uji klinis III untuk vaksin Covid-19 yang diproduksi oleh Sinovac Biotech Ltd. Semenjak disuntikkan kepada ribuan relawan mulai Agustus lalu, PT Bio Farma (Persero) selaku emiten yang bertanggung jawab untuk uji ini mengklaim belum ada efek samping yang diderita penerima vaksin sejauh ini serta timbul kekebalan tubuh atau imunitas untuk melawan virus penyebab penyakit SARS-CoV-2. Vaksin Sinovac yang bernama Coronavax ini merupakan jenis vaksin yang proses pembuatannya mengandalkan virus yang dilemahkan untuk merangsang pembentukan antibodi.

 

Kendati sudah bekerja sama sejak awal dengan Sinovac, namun Pemerintah juga membuka opsi lain bagi masyarakat untuk menggunakan jenis vaksin lain. Pemerintah resmi menetapkan enam jenis vaksin untuk pelaksanaan vaksinasi virus corona di Indonesia. Penetapan itu tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor H.K.01.07/Menkes/9860/2020 tentang Penetapan Jenis Vaksin Untuk Pelaksanan Vaksinasi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Keputusan tersebut diteken Menkes Terawan Agus Putranto pada Kamis (3/12/2020).

 

Peraturan tersebut menegaskan penggunaan vaksin Covid-19 hanya bisa dilakukan setelah mendapat izin edar atau persetujuan penggunaan pada masa darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Disebutkan pula, menteri dapat melakukan pengubahan jenis vaksin Covid-19 tersebut dengan rekomendasi dari Komite Penasehat Ahli Imunisasi Nasional. Selain itu, menteri juga dapat mengubah dengan memperhatikan pertimbangan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional.

 

Adapun vaksin yang akan beredar selain Sinovac adalah dari Pfizer-BioNTech, Moderna, AstraZeneca, Sinopharm, dan vaksin Merah Putih yang tengah dikembangkan secara mandiri oleh Bio Farma. Untuk vaksin dari Pfizer-BioNTech, jenisnya merupakan messenger RNA (mRNA) bagi manusia untuk membuat protein spike virus corona palsu dengan target sistem kekebalan. Dikutip dari BBC, setelah terdeteksi oleh tubuh, maka vaksin akan memicu sistem kekebalan untuk memproduksi antibodi dan mengaktifkan sel T untuk menghancurkan sel-sel yang terinfeksi. Vaksin Moderna juga memiliki teknologi yang serupa.

 

Sementara produk AstraZeneca yang disebut vaksin vektor itu menggunakan virus flu biasa yang disebut adenovirus untuk membawa protein spike dari virus corona ke dalam sel. Adenovirus dimodifikasi sehingga tidak mereplikasi dirinya sendiri, kemudian direkayasa secara genetik untuk menyuntikkan sel dengan pengkodean DNA sehingga timbul imunitas.

 

Melansir dari laman Pemerintah Indonesia, dari keenam vaksin yang sudah memeroleh izin dari Kemenkes ini, vaksin Pfizer Inc and BioNTech memiliki efektivitas paling tinggi. Pihak Pfizer Inc and BioNTech mengklaim, vaksin buatan mereka 95% efektif melawan Covid-19. Disusul vaksin Moderna yang mengklaim memiliki efektivitas 94,5%. Di bawahnya ada vaksin AstraZeneca memiliki efektivitas rata-rata 70%. Sementara itu Sinovac belum merilis data interim karena belum rampungnya uji klinis. Berikut Sinopharm yang juga masih dalam tahap uji klinis III dan vaksin Merah Putih Bio Farma yang masih dalam tahap pengembangan awal.

 

Proses Distribusi 

 

Biro Pers/Mukhlis
Biro Pers/Mukhlis

Untuk melakukan vaksinasi secara massal, Pemerintah berupaya agar vaksin-vaksin ini mampu digunakan sesegera mungkin dengan mempercepat perizinan edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk enam vaksin ini. Namun, sejauh ini baru vaksin dari Sinovac lah yang diupayakan untuk segera memegang izin edar. Hal itu didasari karena telah tersedianya bulk dosis vaksin di Indonesia yang dikirimkan Sinovac pada awal Desember dan sedang disimpan di Bio Farma.

 

Bulk sebanyak 1,2 juta dosis tersebut telah sampai dengan selamat dari Beijing ke Jakarta menggunakan pesawat Garuda Indonesia, Minggu (6/12/2020) sekitar pukul 21.30 WIB melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Vaksin kemudian dipindahkan dari Envirotainer (tempat penyimpanan khusus untuk pengiriman jarak jauh) untuk disimpan di cool room dengan suhu 2-8 derajat Celcius. Ruangan yang berada di area fasilitas Bio Farma di Bandung, Jawa Barat tersebut telah disterilisasi dan disiapkan khusus untuk menyimpan vaksin Covid-19. Vaksin kemudian akan dilakukan pengambilan sampel untuk pengujian mutu oleh tim dari BPOM dan Bio Farma sebelum dinyatakan bisa digunakan darurat atau emergency use authorization (EUA). Seperti yang telah dikatakan Presiden Joko Widodo, setelah tiba, vaksin memerlukan sejumlah tahapan sebelum bisa diberikan kepada masyarakat.

 

“Setelah mendapatkan izin dari BPOM, baru kita lakukan vaksinasi. Kaidah-kaidah saintifik, kaidah-kaidah ilmiah ini juga saya sudah sampaikan, wajib diikuti. Kita ingin keselamatan, keamanan masyarakat itu harus betul-betul diberikan tempat yang paling tinggi,” ucap Presiden Jokowi di sela agenda simulasi vaksinasi di Bogor, Jawa Barat, Rabu (18/11/2020).

 

Pada akhir Desember 2020 atau awal Januari 2021, sebanyak 1,8 juta dosis vaksin Sinovac juga akan menyusul datang. Adapun peraturan soal teknis vaksin gratis virus Covid-19 hanya bakal dirilis ketika vaksin telah mengantongi EUA dari BPOM. Selain itu, pihaknya juga bakal melakukan perubahan atas Kepmenkes HK.01.07/ Menkes/9860/2020 yang diteken Menteri Kesehatan Agus Terawan Putranto pada 3 Desember lalu. Sebab dalam poin kelima beleid itu mengatur skema vaksin mandiri alias berbayar yang menjadi tanggung jawab Menteri BUMN.

 

“Terkait itu menunggu EUA ya. (Kepmenkes) sedang dibahas dan direvisi,” kata Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi dikutip dari CNN Indonesia, Senin (21/12).

 

Sedangkan untuk vaksin lain seperti Pfizer dan Moderna, Pemerintah masih menimbang rencana untuk kerja sama pengadaan vaksinnya karena terkendala cara pendistribusian vaksinnya. Saat ini Indonesia hanya mampu melakukan distribusi jalur dingin atau rantai dingin 2-8 derajat celcius. Erick Thohir mengatakan pemilihan vaksin yang akan digunakan di dalam negeri merupakan keputusan dari Kementerian Kesehatan. Pemilihan ini dengan mempertimbangkan izin dari WHO dan hasil uji klinisnya.

 

“Perlu menjadi catatan penting, distribusi vaksin menggunakan jalur dingin atau rantai dingin di Indonesia sudah terbentuk untuk 2-8 derajat selama bertahun-tahun. Jadi pemerintah akan memilih vaksin yang bisa distribusi 2-8 derajat. Kalau ada kebijakan lain misalnya distribusi vaksin apakah Pfizer dan Moderna, dimungkinkan tetapi harus menghitung risiko distribusi tadi,” urai Erick.

 

Nantinya semua jenis vaksin yang masuk Indonesia akan menjajaki kerjasa dengan Bio Farma karena selama ini emiten farmasi tersebut sudah memiliki pengalaman yang sangat panjang dalam hal distribusi vaksin. Direktur Utama PT Bio Farma Honesti Basyir mengatakan, saat ini pihaknya masih mengkaji teknis distribusi vaksin Covid-19 yang akan memenuhi standar good distribution practice.

 

“Bio Farma sedang mempersiapkan solusi digital untuk pemenuhan distribusi vaksin Covid-19, baik untuk pemenuhan pemerintah maupun mandiri,” tutur Honesti dalam konferensi pers secara daring.

 

Dalam proses distribusi tersebut, sejak dari Bio Farma hingga ke klinik dan fasilitas kesehatan harus memperhatikan sistem rantai dingin. Sistem tersebut adalah untuk menjamin agar kualitas vaksin tetap terjaga.

 

“Suatu sistem untuk proses pengadaan mandiri maupun pemerintah sedang dikembangkan Bio Farma dan kami kerja sama dengan berbagai lembaga,” tegas Honesti.

 

Presiden Jokowi menarget ada 182 juta orang atau 70% dari penduduk Indonesia menerima suntik vaksin hingga 2022 nanti untuk bisa menciptakan imunitas kolektif dari Covid-19. Dalam waktu dekat, pemerintah memprioritaskan penduduk yang berusia 18 – 59 tahun untuk diberi vaksin terlebih dahulu. Sementara untuk lansia, Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menjawab, pemerintah masih akan terus mengkaji berbagai hal teknis terkait program vaksinasi untuk memastikan bahwa vaksin tersedia bagi seluruh masyarakat di Indonesia, baik melalui skema subsidi maupun mandiri.

 

Indofarma Jemput Novavax

Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

Kendati baru mengizinkan enam jenis vaksin hingga saat ini, Pemerintah juga akan menghadirkan jenis vaksin lain apabila efikasinya tinggi. Tahun depan, PT Indofarma Tbk memastikan komitmen dari perusahaan bioteknologi asal Amerika Serikat, Novavax Inc untuk pembelian produk jadi vaksin Covid-19. Direktur Utama PT Indofarma Tbk Arief Pramuhanto mengungkap, pihaknya sudah melakukan komunikasi dengan Novavax membahas pengadaan vaksin tersebut. Menurutnya, sampai saat ini keduanya sepakat untuk melakukan pembelian dengan maksimal total 130 juta dosis.

 

Terkait pengiriman, Arief memproyeksikan vaksin Novavax ini rencananya mulai didatangkan ke Indonesia pada Mei atau Juni 2021. Namun, untuk kisaran harga saat ini masih dalam pembahasan.

 

“Jadi komitmen suplai ada binding volume sebesar 30 juta dosis dan nonbinding volume 100 juta dosis. Binding adalah volume yang mengikat atau minimum volume. Jadi, kami bisa pesan lebih dari 30 juta, dengan maksimum total 130 dosis,” katanya kepada Bisnis Indonesia, Rabu (9/12/2020).

 

Vaksin produksi Novavax ini akan dinamakan NVX-CoV2373. Vaksin ini berjenis protein prefusi yang stabil karena dibuat menggunakan teknologi nanopartikel protein rekombinan Novavax yang mencakup bahan pembantu MatrixM milik Novavax. Saat ini vaksin tersebut sudah melakukan uji coba tahap 3 di Inggris bekerjasama dengan pemerintah dan satgas vaksin setempat.

 

Vaksin ini lebih mudah disimpan dibanding jenis lain karena formulasinya lebih cair sehingga tidak perlu dibekukan dan dapat disimpan pada suhu 2°C hingga 8°C. Vaksin dapat didistribusikan menggunakan saluran yang standar. Mengantisipasi banyaknya permintaan, Novavax akan terus meningkatkan kapasitas produksinya hinga mencapai 2 miliar dosis per tahun, setelah semua kapasitas tersedia secara daring pada pertengahan 2021.

 

Selain vaksin, Indofarma juga akan memasok jarum suntik untuk vaksinasi. Jarum suntik hasil produksi Original Equipment Manufacturer (OEM) akan dipasok untuk mendukung vaksinasi mandiri. Namun hingga saat ini pihaknya belum bisa menjelaskan lebih lanjut tentang jumlah jarum suntik yang akan dipasok emiten berkode saham INAF tersebut dalam program vaksinasi Covid-19.

 

Kementerian BUMN meyakinkan masyarakat bahwa pengadaan vaksin tidak akan bersifat komersil. Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga memastikan tidak ada ‘bisnis vaksin’ yang semata-mata dilakukan secara komersial dan demi keuntungan para perusahaan pelat merah. Begitu juga untuk holding BUMN farmasi.

 

“Konteksnya bukan bisnis seperti yang diperkirakan orang. Kami ditugaskan dalam pengadaan. Tujuan vaksin itu bukan untuk komersial. Jadi ini masalah persepsi,” kata Arya dilansir dari CNN Indonesia.

 

 

Foto Utama: REUTERS/Dado Ruvic

BERITA TERKAIT

ads-sidebar
ads-custom-4

BACA JUGA

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU