Selasa, 21 Mei 2024

Laba Kimia Farma Q3 Merosot 11% Jadi Rp 37 M

ads-custom-5

Jakarta, BUMNInfo | PT Kimia Farma Tbk mencatatkan kenaikan penjualan sejak Januari hingga September 2020. Emiten farmasi dengan kode saham KAEF itu membukukan pertumbuhan penjualan hingga 2,47% year on year (yoy).

 

Dalam kuartal III tahun ini, KAEF mengantongi penjualan Rp 7,05 triliun, naik dari periode yang sama pada 2019 yang hanya Rp 6,88 triliun. Perusahaan mencatat, kenaikan itu terdorong penjualan lokal dan penjualan luar negerinya. Penjualan lokal KAEF meningkat hingga 1,93% yoy menjadi Rp 6,87 triliun dari sebelumnya Rp 6,74 triliun. Penjualan luar negeri KAEF juga meningkat 24,56% yoy menjadi Rp 173,62 miliar dari sebelumnya Rp 139,39 miliar.

 

Jika dilihat dari lini produknya, penjualan obat ethical produksi pihak ketiga masih menjadi kontributor terbesar hingga Rp 1,91 triliun. Jumlah ini juga lebih besar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat Rp 1,74 triliun. Kontribusi terbesar setelahnya disumbangkan dari penjualan obat over the counter (OTC) produksi pihak ketiga yang mencapai Rp 1,19 triliun. Jumlah penjualan ini juga meningkat dari periode yang sama tahun 2019  yang mencapai Rp 940,27 miliar. Menyusul dua lini produk di atas, penjualan obat generik produksi entitas berkontribusi hingga Rp 1,17 triliun. Jumlah tersebut bertumbuh 14,71% yoy dari sebelumnya Rp 1,02 triliun.

 

Akan tetapi, pertumbuhan dari sisi top line itu belum mampu menyelamatkan bottom line dari tekanan. Sepanjang sembilan bulan pertama 2020, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menurun 11,07% yoy menjadi Rp 37,2 miliar. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu mencapai Rp 41,83 miliar.

 

Selain beban-beban yang cenderung membengkak, selisih kurs mata uang asing jadi pemberat bottom line-nya. Tercatat, hingga kuartal III 2020 akun tersebut membengkak menjadi Rp 4,05 miliar. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu hanya tercatat Rp 476,84 juta.

 

Kendati begitu, Perusahaan menilai kinerjanya akan terdongkrak jika perkembangan vaksin Covid-19 yang dilakukan berjalan lancar. Anak usaha PT Bio Farma (Persero) ini sudah memiliki kerja sama dengan G42/Sinopharm untuk memperoleh vaksin dari Uni Emirat Arab pada November ini. GM Pengembangan Bisnis Kimia Farma Wisnu Sucahyo mengatakan, telah mempersiapkan fasilitas-fasilitas pendukung untuk distribusi vaksin di dalam negeri. Saat ini perusahaan memiliki 129 chiller yang tersebar di seluruh jalur distribusinya di Indonesia, yang memiliki sertifikasi dari lembaga terkait.

 

Dia mengungkapkan, vaksin dari G42/Sinopharm ini tak lagi perlu menjalani uji klinis di dalam negeri, artinya sesampainya di Indonesia vaksin ini tinggal didistribusikan saja kepada penerima yang telah ditetapkan pemerintah sebagai prioritas. Sebab vaksin ini di tahap awal memang ditargetkan untuk tenaga kesehatan.

 

“Uji trial tak perlu lagi karena vaksin yang akan diproses Kimia Farma merupakan vaksin jenis produk jadi, sudah jadi. Jadi di mana kami impor produk vaksin itu sudah uji klinis saat ini di fase 3 di UEA dengan peserta dari 87 ras dan 45 ribu orang di UEA, jadi ketika impor tak perlu uji klinis,” urai Wisnu.

 

Sumber: CNBC IndonesiaKontan

Foto: Istimewa

BERITA TERKAIT

ads-sidebar
ads-custom-4

BACA JUGA

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU