Senin, 4 Maret 2024

Pertamina Berkomitmen Tetap Bangun Kilang Minyak Demi Penuhi Pasokan BBM Masyarakat

ads-custom-5

Jakarta, BUMNInfo | PT Pertamina (Persero) Tbk berkomitmen akan tetap membangun lima proyek kilang. Proyek itu terdiri dari satu proyek Grass Roof Refinery di Tuban dan empat proyek Refinery Development Master Plan di Cilacap, Balongan, Balikpapan, dan Dumai.

 

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menyatakan pihaknya bakal merampungkan pembangunan proyek-proyek kilang tersebut. Pembangunan akan dijalankan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi bahan bakar minyak atau BBM.

 

Pertamina mencatat, kebutuhan BBM di dalam negeri mencapai 1,4 juta barel per hari. Sementara kapasitas kilang yang dimiliki Indonesia hanya sebesar 1 juta barel per hari (bph) dengan produksi 900 ribu bph. Sehingga terdapat kebutuhan impor BBM sekitar 500 ribu bph.

 

“Kami takut masa depan fossil fuel turun, tapi sekarang kami masih impor. Kalau kami tidak bangun bagaimana?” kata Nicke Dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VII, Senin (29/6).

 

Di samping itu, kilang yang dimiliki perusahaan saat ini hanya mampu menghasilkan produk BBM dengan kualitas Euro 2. Padahal, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mendorong agar Pertamina mengganti produksi BBM yang lebih ramah lingkungan.

 

“Sejak 2017 KLHK telah menetapkan euro empat karena tidak sesuai dengan requirement lingkungan,” jelasnya dilansir dari Katadata.

 

Kabar terbaru, setelah lepas dari perusahaan migas asal Arab Saudi, Aramco, Pertamina menyebut telah mendapat dua investor yang serius untuk berkolaborasi dalam pembangunan Kilang Cilacap. Kendati begitu, Nicke belum bisa membeberkan siapa investor tersebut. Jika investor tersebut sudah siap untuk bergabung, perusahaan akan mengarahkannya untuk penambahan kapasitas kilang.

 

“Kami tetap lakukan upgrading. Peningkatan kapasitas menunggu investor tapi peningkatan kualitas kami lakukan,” tutur Nicke.

 

Pembangunan kilang tersebut diharapkan perseroan dapat diintegrasikan dengan petrokimia. Nicke menegaskan tak mau membuat bisnis babak belur saat ini. Ia menargetkan dalam 10 tahun seluruh proyek ini rampung, karena jika ditunda terus, maka internal rate of return (IRR) makin anjlok.

 

Di sisi lain, penggunaan energi baru dan terbarukan diproyeksi memasuki masa puncaknya pada 2030. Namun, pembangunan kilang sangat penting untuk diprioritaskan mengingat dalam proses transisi tersebut energi fosil masih menjadi penggerak perekonomian.

 

Sumber: KatadataRepublika

BERITA TERKAIT

ads-sidebar
ads-custom-4

BACA JUGA

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU