Senin, 20 Mei 2024

Fokus di Industri Kesehatan, Pindad dan BPPT Kembangkan Bus Mobile Laboratorium BSL-2

ads-custom-5

Bandung, BUMNInfo | PT Pindad (Persero) menjalin kerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (NK) oleh Direktur Utama PT Pindad (Persero) Abraham Mose dan Kepala BPPT Hammam Riza pada Kamis (2/7). Kerjasama ini bertujuan untuk melakukan pengkajian dan penerapan teknologi di Indonesia dalam rangka menunjang pengembangan dan pembangunan industri nasional.

 

Setelah penandatanganan NK juga dilaksanakan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) tentang pengembangan dan penerapan teknologi desain, enjiniring dan manufaktur Mobile Laboratorium Bio Safety Level 2 (BSL-2) berbasis kendaraan bus. PKS ditandatangani oleh Direktur Utama Pindad Abraham Mose dan Deputi Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa, Wahyu Widodo Pandoe disaksikan oleh Kepala BPPT Hammam Riza dan Direksi Pindad.

 

Perjanjian ini bertujuan untuk ikut mendorong mewujudkan kemandirian ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang kesehatan khususnya teknologi pengembangan Mobile Lab BSL-2 berbasis kendaraan Bus. Ruang lingkup PKS meliputi penyusunan detail engineering design, manufaktur prototipe, melakukan pengujian, dan pengembangan produk.

 

Dalam sambutannya, Abraham menyampaikan apresiasi atas kerjasama yang dilakukan Pindad dengan BPPT selama ini. Pertemuan ini juga dalam rangka membangun Mobile Lab BSL-2 yang sangat dibutuhkan dalam kondisi pandemi Covid-19.

 

“Banyak sekali kerjasama, kontribusi dan support dengan BPPT. Hari ini lebih spesifik lagi dalam rangka kerjasama, salah satunya pembangunan Mobile Lab BSL-2. Pembangunan mobile laboratory merupakan terobosan yang sangat baik, melihat kondisi saat ini sehingga pengerjaannya harus segera dilaksanakan dan diharapkan dapat memberikan manfaat yang banyak. Kita akan push internal Pindad supaya mempercepat produksinya,” tegas Abraham.

 

Selain itu, Abraham juga menyampaikan bahwa Pindad diminta untuk bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan dan Kementerian Perindustrian untuk menggunakan alat-alat pertanian dan alat-alat berat produksi Pindad untuk pembukaan lahan baru di Kalimantan yang merupakan program pemerintah untuk mendukung ketahanan pangan.

 

Sementara itu, Kepala BPPT Hammam Riza menyampaikan maksud pelaksanaan penandatanganan PKS ini yang merupakan salah satu upaya dalam membangun inovasi anak negeri untuk percepatan penanganan Covid-19.

 

“Covid-19 membutuhkan proses untuk ditangani, dicegah, diputus rantai penyebarannya melalui pengujian sampel SWAB yang kita kenal dengan PCR test. Untuk melaksanakan PCR test ini kita membutuhkan sarana laboratorium untuk melaksanakan testing dan tracing terutama daerah yang menjadi epicentrum dan jauh yang selama ini butuh waktu untuk hasil pengujiannya 7 – 14 hari,” ujar Hammam.

 

Mobile Lab BSL-2 diklaim telah mengikuti standar dari WHO dan Kementerian Kesehatan yang menjamin keamanan, akurasi dan harus bisa tersertifikasi. Hammam menyebut model pertamanya sudah digunakan untuk pengujian PCR secara massal yang kemarin juga dihadiri oleh Kasad Jenderal TNI Andika Perkasa.

 

Menurutnya, BPPT ingin melakukan hilirasi dan membutuhkan mitra terpercaya yang memiliki kemampuan yaitu Pindad. Jadi, diharapkan dengan kemampuan perseroan, kualitas dan kuantitas dari Mobile Lab BSL-2 dapat meningkat untuk kemudian akan disebar di seluruh provinsi yang ada di Indonesia.

 

BPPT juga berkomitmen untuk terus mendorong upaya membangun ekosistem seperti begitu pentingnya kedaulatan, kemandirian pangan dan kesehatan. Penggeraknya, para inovator akan datang dari industri-industri strategis, salah satunya Pindad.

 

Pada kesempatan yang sama dilaksanakan juga penandatanganan kontrak payung tentang produksi, penyediaan paket kelengkapan produk dan layanan purna Mobile Lab BSL-2. Kontrak payung ditandatangani oleh Direktur Utama Pindad, Kepala Pusat Pelayanan Teknologi, Yenni Bakhtiar.

 

Perjanjian ini bertujuan untuk ikut mendorong mewujudkan kemandirian manufaktur produk dalam bidang kesehatan khususnya teknologi Mobile Lab BSL-2 tersebut. Ruang lingkup perjanjian meliputi produksi produk, penyiapan kelengkapan produk, serta penyediaan layanan purna jual.

 

Pindad kini berekspansi tak hanya di bidang pertahanan, namun juga produk-produk kesehatan. Seperti yang telah diketahui, Pindad kini tengah berfokus untuk memproduksi massal ventilator buatannya. Produksinya digenjot untuk membantu percepatan penanganan Covid-19 di Indonesia.

 

Adapun produk kesehatan yang diperkenalkan emiten pertahanan pelat merah itu yakni Ventilator Resutitator Manual (Pindad VRM), Ventilator Covent-20 kerjasama dengan Universitas Indonesia, Disinfectan Fog Cannon, Mobile Sterilization Chamber Covid-19, serta produk anak perusahaan PT Pindad Enjiniring Indonesia (PT PEI) yakni cairan disinfektan dan perlengkapan alat pelindung diri (APD) meliputi baju APD, helm face shield dan kacamata.

 

infografis Pindad alkes

 

Sumber: Tempo.co, Warta Ekonomi

Foto: dok. Pindad

Infografis: BUMNINFO/Naufal Anjani

BERITA TERKAIT

ads-sidebar
ads-custom-4

BACA JUGA

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU