Rabu, 22 Mei 2024

Telkom University dan LIPI Sukses Ciptakan Robot Disinfektan

ads-custom-5

Jakarta, BUMNInfo | Tim peneliti dari Telkom University yang bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah berhasil merakit robot disinfektan pertama di Indonesia. Penciptaan robot ini didasari atas keinginan kedua institusi untuk segera memutus mata rantai penyebaran virus corona baru atau Covid-19 di Tanah Air.

 

Diumumkan lewat keterangan resmi Kementerian Riset dan Teknologi/BRIN di akun resmi @lipiindonesia, robot tersebut bernama Autonomous UVC Mobile Robot (AUMR) yang telah berhasil diuji coba di Rumah Sakit (RS) Pindad di Bandung dan RS Darurat Covid-19 di Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta.

 

Rektor Telkom University, Prof. Dr. Adiwijaya menyatakan rasa bangganya dan berharap produk ini mampu menangkal penyebaran Covid-19 lebih luas.

 

“Ini merupakan robot AUMR pertama di Indonesia. Sebelumnya alat serupa digunakan di beberapa negara, salah satunya Denmark. Semoga alat ini bermanfaat untuk pencegahan penyebaran Covid-19 di Indonesia,” tutur Irwan dalam keterangan resmi.

 

Teknis kerja AUMR

Peneliti Balai Pengembangan Instrumen LIPI Irwan Purnama menjelaskan, robot AUMR ini berfungsi untuk melakukan disinfeksi dan sterilisasi pada ruang isolasi pasien Covid-19 tanpa campur tangan manusia secara langsung, sehingga dapat meminimalisir penularan Covid-19 terhadap petugas atau tenaga medis.

 

Robot AUMR bisa dikontrol menggunakan autonomous control mode lewat line tracking atau laser range navigation. Selain itu robot ini juga dilengkapi dengan sensor ultrasonik agar dapat menghindari tabrakan dari benda di sekitarnya.

 

Untuk menghadapi virus, robot ini menggunakan UVC dengan panjang gelombang 254 nanometer (nm), yang mendekati panjang gelombang gemirsidal puncak 262 nm di mana ukuran tersebut adalah yang paling mematikan untuk virus.

 

Pada ukuran tersebut, sinar UV menjadi mudah terserap oleh DNA, RNA dan protein dari suatu mikroorganisme, dan menyebabkan pecahnya dinding sel protein yang akan membunuh mikroorganisme.

 

Selain itu, paparan UV dari AUMR juga menyebabkan hilangnya kemampuan sel untuk mereplikasi diri.

 

“Kegunaan UVC adalah untuk inaktivasi microba khususnya virus. Keunggulan penggunaan UVC adalah sterilisasi dan desinfeksi yaitu tidak meninggalkan residu,” ungkap Irwan.

 

Seperti halnya penggunaan kimia basah, UVC ini akan sangat cocok digunakan di ruang isolasi. UVC diharapkan oleh para peneliti bisa menginaktivasi virus yang menyebar dalam bentuk aerosol di udara, droplet atau yang menempel pada permukaan benda, terutama pada peralatan medis di ruangan isolasi pasien.

 

Meski demikian, Irwan menegaskan bahwa pemanfaatan AUMR ini bukan untuk level masyarakat atau rumah tangga. Sebab, untuk pengoperasiannya di rumah sakit pun, ruang harus bebas dari manusia. Bila ada tenaga medis atau pasien di dalamnya, orang tersebut harus terlindungi dari paparan UVC.

 

Hal itu karena UVC bisa menyebabkan kanker kulit atau katarak pada mata dalam jangka panjang.

 

“Oleh karena itu, kami menggabungkan UVC dengan mobile robot ini untuk menghindari peran manusia dalam proses sterilisasi tersebut,” kata dia.

 

AUMR juga memiliki bisa mensterilisasi dirinya sendiri dari paparan virus selama proses sterilisasi itu berlangsung sehingga meminimalkan risiko paparan UVC pada manusia.

 

“Tapi sampai saat ini kita belum melakukan pengecekan bagian blankspot di AUMR yang tidak terkena cahaya sinar UVC yang dibawanya,” jelas Irwan.

 

Biaya riset dan produksi

Menurut Adiwijaya, riset dan pengembangan robot yang mampu beroperasi dalam waktu 5 jam ini, memakan biasa sebesar Rp 250 juta. Biaya tersebut dinilai masih jauh lebih murah dibanding robot AUMR lain dari luar negeri.

 

“Masih jauh lebih murah daripada robot AUMR dari luar negeri, yang harganya berada di kisaran 80 ribu – 90 ribu dolar AS atau lebih dari Rp 1 miliar,” papar Adiwijaya.

 

Meski telah berhasil mengembangkan robot inovatif ini, baik pihak Telkom University maupun LIPI belum berkomentar soal rencana komersialisasinya. Hal itu dikarenakan prototipenya sendiri masih dalam tahap uji coba sebelum bisa digunakan secara optimal.

 

Telkom University merupakan institusi pendidikan tinggi yang didirikan oleh perusahaan BUMN telekomunikasi terkemuka di Indonesia, PT Telkom Indonesia.

 

Terletak di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Telkom University atau yang lebih akrab disebut Tel-U berdiri pada 1990 dengan nama Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Telkom. Pendirian sekolah tinggi ini diprakarsai oleh Direktur Utama PT Telkom saat itu, yakni Cacuk Sudarijanto.

 

Sumber: Kompas.com, Bisnis.comKumparan

Foto: LIPI

BERITA TERKAIT

ads-sidebar
ads-custom-4

BACA JUGA

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU