Kamis, 18 April 2024

PTPN VIII Konversi Lahan Karet Jadi Sawit

ads-custom-5

Jakarta, BUMNInfo | PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero) atau PTPN VIII akan mengkonversi sekitar 4.000 hektare (ha) lahan karet menjadi sawit. Perubahan komoditas itu dilakukan akibat harga karet yang cenderung tidak menentu dan maraknya penggunaan karet sintesis.

 

Kepala Divisi Tanaman PTPN VIII Dian Hadiana Arief berkata, pihaknya sedang mengurus perizinan untuk perubahan komoditas. Anak perusahaan BUMN perkebunan itu akan mengkonversi salah satu lahan pertanaman karet menjadi kebun sawit di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, tepatnya di Kebun Cibungur.

 

“Saat ini, kami tengah melakukan pengurusan izin untuk perubahan komoditas. Rencana ini sesuai dengan rencana jangka panjang perusahaan yang akan mengkonversi lebih dari 4.000 ha karet menjadi sawit,” ucap Dian.

 

Harga Komoditas karet yang tidak menentu, ditambah saat ini maraknya penggunaan karet sintetis di berbagai industri menjadi faktor mengapa PTPN VIII berupaya mengkonversi sebagian lahan karet menjadi sawit. Hal ini tak lain agar industri perkebunan ini dapat bertahan.

 

“Tidak hanya itu, PTPN VIII juga berencana akan membangun satu pabrik kelapa sawit dalam mendukung proses bisnis perusahaan nantinya,” tambahnya.

 

Menurutnya, secara teknis, sudah tidak ada masalah terkait lahan konversi dan pada 28 Februari lalu, Dinas Pemerintah Kabupaten Sukabumi telah mengeluarkan Rekomendasi Teknis Konversi Tanaman Karet ke Kelapa Sawit pada Kebun Cibungur dengan Nomor 525/520-Bid.Bun.

 

“Tinggal menunggu beberapa perizinan lainnya, proses perizinan ini sudah di lakukan dari tahun 2019 lalu, memang banyak hal yang harus di urus karena ini perubahan komoditas. Saat ini PTPN VIII memiliki luas areal sawit tertanam sekitar 21.231,08 ha,” ungkap Dian.

 

Sawit menjadi primadona bagi Indonesia, seolah tak lekang oleh waktu komoditas ini terus menjadi andalan bagi Indonesia dalam meningkatkan dan menambah devisa negara. Hingga saat ini, Indonesia tercatat sebagai produsen dan eksportir kelapa sawit terbesar di dunia.

 

Selain itu, Presiden Jokowi juga sempat menyampaikan dalam pidato kenegaraannya bahwa Indonesia akan lebih banyak mengkonsumsi minyak sawit untuk keperluan dalam negeri, terutama untuk biofuel.

 

Sementara itu, harga rata-rata karet di Sumatera Selatan (Sumsel) menyentuh titik terendah pada Maret 2020 yakni senilai Rp 14.809 per kilogram (kg) dari dua bulan sebelumnya. Berdasarkan data Disbun Sumsel, harga rata-rata terendah itu untuk kadar karet kering (KKK) 100%.

 

Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Sumsel Rudi Arpian di Palembang, mengatakan, harga karet harian pada Maret 2020 sempat Rp 13.892 per kg untuk KKK 100%. Sementara untuk KKK 60-50% senilai Rp 8.335-6.946 per kg pada 30 Maret 2020.

 

“Itu harga terburuk sepanjang 2020 yang diliputi kondisi penyebaran Virus Korona yang semakin masif. Artinya, jika petani menjual KKK 60-50%, harga yang diterima petani lebih rendah,” kata dia.

 

Kini petani di Sumsel mulai mengkhawatirkan penutupan pabrik karet di provinsi itu. Apalagi sejumlah pabrik di daerah tetangga, seperti Bengkulu, Jambi dan Sumatera Barat, mulai setop produksi.

 

“Yang kami khawatirkan kemungkinan terburuk jika Kota Palembang melakukan karantina wilayah, maka mayoritas pabrik karet yang ada di Palembang akan tutup,” katanya.

 

Hingga kini pabrik karet di Sumsel masih menerapkan imbauan dari Pemprov Sumsel agar pabrik bisa bertahan dengan melakukan efisiensi dan pemotongan ongkos produksi. Penutupan pabrik karet akan berdampak signifikan tak hanya bagi petani tapi juga tenaga kerja di pabrik tersebut.

 

Sumber: Investor DailyPikiran Rakyat

BERITA TERKAIT

ads-sidebar
ads-custom-4

BACA JUGA

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU