Senin, 20 Mei 2024

Efisiensi Beban, Laba Wika Tumbuh 26 Persen

ads-custom-5

Jakarta, BUMNInfo | PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. mencatatkan laba bersih sebesar Rp2,62 triliun pada 2019 atau naik 26,42 persen dibanding tahun sebelumnya. Capaian itu disampaikan oleh Direktur Utama WIKA Tumiyana lewat rilis pers.

 

Posisi utang berbunga emiten berkode WIKA itu saat ini sebesar Rp 15,08 triliun dengan total ekuitas sebesar Rp 19,22 triliun. Menghasilkan rasio gross gearing dan net gearing masing-masing hanya sebesar 0,78 kali dan 0,25 kali. Makanya, saat ini kondisi keuangan WIKA tengah stabil.

 

“WIKA masih memiliki ruang yang cukup untuk berpartisipasi pada proyek- proyek infrastruktur yang menjadi program pemerintah,” ungkap Tumiyana.

 

Ia melanjutkan, kenaikan laba bersih itu diraih karena pihaknya telah melakukan efisiensi di berbagai lini. Ia juga mengakui strategi lain yang dijalankan sepanjang tahun juga berhasil.

 

Capaian kinerja sepanjang tahun lalu, salah satunya dipengaruhi oleh kuatnya komitmen dan strategi perseroan dalam menjalankan roda bisnisnya di tengah siklus politik lima tahunan yaitu, Pemilihan Umum serta Pemilihan Kepala Negara dan Pemerintahan.

 

“Apa yang telah ditorehkan pada 2019, membuktikan bahwa kami mampu menciptakan operasi yang semakin efisien dan strategi investasi yang mulai membuahkan hasil sehingga memberikan hasil yang lebih optimal,” terang Tumiyana.

 

Tahun ini, WIKA memproyeksikan target kontrak baru sebesar Rp65,5 Triliun, naik 59,7 persen dibandingkan dengan 2019. WIKA juga membidik laba bersih sebesar Rp2,92 Triliun atau tumbuh 11,41 persen dibandingkan dengan realisasi 2019.

 

Sementara itu, berdasarkan data Bloomberg, saham WIKA ditutup melemah 6,74 persen atau 60 poin ke level Rp830 per saham. Artinya, saham WIKA sudah terkoreksi 57,35 persen dalam setahun ini. Diperparah dengan krisis akibat Covid-19 yang mengoreksi hampir semua lini ekonomi dunia.

 

Padahal di saat yang sama laba per saham yang ditawarkan perusahaan konstruksi itu mencapai Rp254,61. Bloomberg mencatat price earning ratio WIKA berada di level 3,26 kali dengan price to book ratio 0,45 kali.

 

Untuk menyelamatkan pasar, Perseroan memutuskan untuk melakukan aksi buyback sebanyak 20 persen saham selama tiga bulan ke depan. Emiten BUMN ini mulai melakukan aksi beli pada 13 Maret 2020 dan berakhir pada 13 Juni 2020. WIKA akan menggunakan laba yang belum ditetapkan penggunaanya sebesar Rp300 miliar.

 

Manajemen menilai pada saat ini harga saham Perseroan tidak mencerminkan kondisi fundamental dan prospek perseroan. WIKA berharap dengan aksi buyback maka saham perseroan dapat memiliki pergerakan harga saham yang positif.

 

Sumber: Kontan.co.idBisnis.com

BERITA TERKAIT

ads-sidebar
ads-custom-4

BACA JUGA

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU