Kamis, 23 Mei 2024

Pandemi Corona, Indofarma Tingkatkan Produksi Pelindung Diri Dalam Negeri

ads-custom-5

Jakarta, BUMNInfo | Direktur Utama PT Indofarma Tbk. Arief Pramuhanto mengatakan sebetulnya Indonesia sudah mampu melakukan produksi alat pelindung diri atau APD dalam menanggulangi virus Corona atau Covid-19.

Produksi APD itu meliputi masker N95 dan masker bedah disposable, coverall jumpsuit atau yang kerap disebut baju hazmat, goggles, sarung tangan disposable dan steril, shoe cover, dan face shield. Hanya saja, kata Arief, melonjaknya jumlah kasus Corona membuat permintaan APD naik dan pasokan bahan baku sempat terhambat. 

Arief menjelaskan, selama ini Indofarma hanya fokus memproduksi alat kesehatan di empat komponen yakni furnitur rumah sakit, diagnosa, disposable, dan elektromedis. Sekarang, perusahaan dengan kode emiten INAF ini turut memproduksi APD guna memenuhi kebutuhan yang naik drastis.

“Jadi APD kami tidak terlalu banyak, juga hanya sebagai trading dengan mengambil dari luar,” kata Arief, Selasa, 24 Maret 2020. “Sebenarnya barang APD ini ada tetapi tidak cukup karena permintaannya yang naik 5-6 kali lipat.” 

Walhasil, bahan baku untuk memproduksi alat pelindung diri kebanyakan harus diimpor dari Cina. Dan ketika permintaan terus melonjak, produksi di dalam negeri tidak mudah langsung digenjot. Untuk itu, kata menurut Arief, PT Indofarma akan menyiapkan contingency planning.

Dalam kondisi ini, perseroan pun telah memesan dua mesin pembuatan masker bedah disposable yang diharapkan dapat memproduksi hingga 1,5 juta item per bulan. Namun, Arief menyebut mesin tersebut baru bisa didatangkan pada April ini.

“Sekarang impor sudah dibantu pesawat TNI dan sejumlah pesawat Garuda yang ditugaskan dalam pengiriman barang guna memaksimalkan jalur logistik,” ujar Arief.

Selain alat kesehatan dan APD, kata Arief, produksi obat penyembuhan Corona juga didorong. Indofarma pun telah kembali memproduksi obat Sars yang terbukti ampuh untuk 9 dari 20 pasien di RS Persahabatan berhasil sembuh.

Indofarma akan memproduksi sekitar 275.000 butir dalam empat tahapan ke depan. Seiring dengan hal itu, pasokan rapid test pun terus dilakukan. “Kalau laboratorium BUMN yang menerima rapid test di Kimia Farma, kami hanya memasok alatnya,” kata Arief. 

Sumber :bisnis.tempo.co

Foto : TEMPO/Dasril Roszandi

BERITA TERKAIT

ads-sidebar
ads-custom-4

BACA JUGA

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU