Kamis, 6 Juni 2024

BRI Punya Strategi untuk Perkuat UMKM di Tengah Pandemi

ads-custom-5

Jakarta, BUMNInfo | Di tengah ancaman terjun bebasnya perekonomian global dan Tanah Air, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) telah melakukan langkah-langkah strategis dalam rangka memetakan sektor-sektor ekonomi dan daerah yang terdampak dari penyebaran Covid-19.

“BRI juga melaksanakan serangkaian skenario mulai stress test hingga melakukan selektif ekspansi untuk meningkatkan risk awareness jajaran bisnis,” ujar Corporate Secretary Bank BRI Amam Sukriyanto.

Dalam upaya menjaga kualitas kredit, BRI menyambut baik kebijakan relaksasi stimulus perekonomian yang di keluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Kamis lalu. Agar segera terealisasi, BRI telah menyiapkan sejumlah mekanisme khusus, seperti relaksasi restrukturisasi dan relaksasi kebijakan kredit terdampak wabah Covid-19.

Langkah ini merupakan upaya preventif BRI untuk mengurangi dampak terhadap kinerja debitur yang diperkirakan akan menurun akibat Covid-19 sehingga meningkatkan risiko kredit yang berpotensi mengganggu kinerja perbankan.

Selain itu, pendampingan kepada nasabah UMKM akan terus dilakukan untuk menjaga kelangsungan usaha di tengah keadaan yang tak menentu. Beberapa jurus yang dilakukan meliputi relaksasi pinjaman berupa rescheduling pembayaran angsuran.

BRI juga membuka akses pasar untuk membantu penjualan produk nasabah UMKM melalui platform e-Commerce seperti halnya Indonesia Mall. Kemudian, konsultasi & pelatihan manajemen bisnis yang diadakan di 157 Rumah Kreatif BUMN (RKB) kelolaan BRI di seluruh Indonesia serta bantuan Corporate Social Responsibility (CSR)  untuk mendukung operasional bisnis pelaku UMKM. 

Kemudian, BRI akan menyerahkan insentif kepada nasabah mikro, kecil dan ritel dengan menurunkan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) sampai dengan 50 basis point. Amam menilai, langkah relaksasi ini mampu membantu nasabah di masa-masa sulit layaknya saat ini.   

“Prinsipnya, BRI senantiasa tanggap dan siap melakukan counter cyclical di tengah tantangan wabah Covid-19 dengan berbagai kebijakan relaksasi maupun upaya menjaga kelangsungan usaha dari setiap nasabah UMKM kami. Selanjutnya, kami terus berupaya  melaksanakan prudential banking dan tetap melakukan ekspansi bisnis yang sehat secara selective growth,” tutup Amam.

Upaya BRI di 2020 untuk UMKM

Sebelum penyebaran Covid-19 ini mendera, BRI menegaskan butuh sinergi seluruh pihak termasuk pemerintah dan sesama perusahaan BUMN untuk meningkatkan produktivitas demi mendorong usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) bisa naik kelas.

Sinergi yang dimaksud di antaranya penguatan kebijakan pendukung UMKM yang dilakukan oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia.

Direktur Utama Bank BRI Sunarso mengatakan, sinergi BUMN dalam hal monitoring dan evaluasi semestinya bisa dilakukan oleh bank-bank BUMN (Himbara) dan kementerian terkait. Bank Himbara terdiri dari Bank BRI, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN).

Sinergi lain dalam hal pembiayaan juga bisa dilakukan oleh bank Himbara, bersama dua BUMN lainnya yakni PT Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM).

“Sementara itu, dalam hal pendampingan UMKM, bisa dilakukan lewat RKB (Rumah Kreatif BUMN), universitas/akademisi, lembaga pendamping UMKM lainnya, dan dalam hal asuransi dan penjaminan sinergi bisa dilakukan oleh PT Askrindo, Perum Jamkrindo, dan PT Jasindo,” tulis Sunarso.

Dalam hal mitra offtaker bagi UMKM, bisa dilakukan sinergi dengan BUMN lain seperti PT PTPN X, PT PTPN XI, Perum Perhutani, PT RNI, PT Perinus, dan PT Pupuk Indonesia.

Sementara pemberdayaan UMKM dengan pola klaster bisa dilakukan sinergi sejumlah kementerian terkait yakni Kementerian BUMN, Kementerian Koperasi dan UMKM, Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Tenaga Kerja, Kementerian Pariwisata, dan Kementerian Perdagangan.

Sunarso menjelaskan saat ini Bank BRI tetap fokus kepada segmen mikro kecil menengah (MKM) dengan porsi 78,9%, sedangkan share Non-MKM mencapai 21,1% dari total kredit perseroan. Totalnya untuk penyaluran kredit, BRI menargetkan 80% portofolio pinjaman dapat disalurkan ke segmen UMKM pada 2020.

“Secara umum, dapat dilihat bahwa produktivitas usaha mikro masih belum berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, karena selalu tumbuh di bawah tingkat pertumbuhan ekonomi nasional,” tulis Sunarso.

Dia menjelaskan, saat ini kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional masih rendah yaitu sebesar 15,80% atau sekitar US$ 23 miliar dari total ekspor nonmigas. Angka tersebut juga lebih rendah dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya seperti Vietnam 20% dan Thailand 29,50%.

 

Sumber: SindonewsCNBC Indonesia

Foto: Jabar Ekspres

BERITA TERKAIT

ads-sidebar
ads-custom-4

BACA JUGA

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU