Senin, 20 Mei 2024

Sukses Lahirkan Pesawat N219, Ini Karya PTDI di 2020

ads-custom-5
Jakarta, BUMNInfo | PT Dirgantara Indonesia (DI) berhasil membuat pesawat jenis baru yakni N219 Amfibi. Pesawat ini merupakan versi pengembangan dari N219 biasa. Bedanya, sesuai dengan julukan amfibi, pesawat ini bisa mendarat di darat maupun di area perairan seperti laut dan sungai.
 
Pengembangan pesawat ini merupakan hasil kerja sama PTDI dengan Kementerian PPN/Bappenas dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Langkah tersebut merupakan upaya membangun kemandirian industri penerbangan.
 
“Salah satu yang dilakukan Bappenas adalah mendorong kerja sama penelitian antar Litbang dan industri terkait melalui flagship Riset Nasional. Tujuan kerja sama ini menghasilkan efektivitas riset dan produk inovasi yang sesuai kebutuhan masyarakat luas,” ujar Direktur Pendidikan Tinggi, Iptek, dan Kebudayaan Bappenas, Hadiat.
 
Varian pesawat N219 amfibi dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan nasional, baik untuk daerah-daerah terluar yang merupakan kepulauan-kepulauan, daerah-daerah yang memiliki potensi pariwisata bahari, atau di sungai-sungai dan danau-danau yang relatif sulit untuk dibangun lapangan terbang. Hal ini berguna untuk menambah konektivitas dan meningkatkan roda ekonomi di kawasan tersebut.
 
PTDI menargetkan bisa segera melakukan proses produksi massal pesawat N219. Saat ini, perseroan tengah menanti sertifikat tipe sebelum dilakukan produksi secara bertahap. Untuk proses pengiriman pesawat pertama N219 bisa dilakukan pada 2022 hingga 2023.
 
“Kemungkinan delivery pertama targetnya 2022. Jadi produksi membutuhkan waktu satu setengah tahun. Karena sudah ada 10 yang sudah kontrak belum lagi yang mau datang. Jadi kita harus isi slot flight yang ada dari slot yang kita punyai,” ujar Direktur Utama PTDI Elfien Goentoro.
 
Pada Februari lalu, PTDI juga meluncurkan pesawat tempur jenis F-16. Pesawat ini merupakan hasil pengembangan kolaborasi dengan TNI-AU.
 
Menurut Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Yuyu Sutisna, pesawat bernomor TS-1610 itu adalah bukti pencapaian kalau Indonesia mampu meng-upgrade pesawat tempur secara mandiri.
 
“Dengan terbangnya pesawat TS-1610, telah menjadi bukti pencapaian, bahwa anak bangsa juga mampu untuk meng-upgrade secara mandiri pesawat tempur yang dimiliki Indonesia,” ujar Yuyu.
 
Yuyu mengatakan, pesawat tempur F-16 berhasil diperbarui dalam program Enhanced Mid-Life Update (EMLU) – The Falcon Structural Augmentation Rodmap (Falcon STAR) yang dilakukan TNI AU dibantu PT Dirgantara Indonesia. Di mana dalam proyek ini juga melibatkan Lockheed Martin, pengawas dari pabrik pesawat F-16 di Amerika Serikat.
 
Selain dua pesawat tadi, ada pesawat CN235 buatan PTDI yang dipakai oleh Korea Selatan pada pertengahan Februari lalu. Pesawat tersebut digunakan untuk mengevakuasi para warga Korea Selatan yang terjebak di dalam kapal pesiar Diamond Princess di Jepang akibat virus corona.
 
Korea Selatan tercatat sejak tahun 1994 telah menggunakan dua skuadron pesawat CN235 yang dipesan dari Indonesia untuk memperkuat angkatan udaranya. Bahkan di pakai sebagai angkutan khusus wakil presiden.
 
Pesawat terbang buatan PTDI ini sudah terjual 68 unit di dunia. Sejumlah negara selain Korea Selatan yang turut menggunakan pesawat ini di antaranya Malaysia, Uni Emirat Arab, hingga Turki. Tak hanya Korea Selatan, pesawat CN235 juga dipakai Malaysia sebagai angkutan udara VIP.
 
Sumber: PTDI, Tribunnews.comMerdeka.com
Foto: PTDI

BERITA TERKAIT

ads-sidebar
ads-custom-4

BACA JUGA

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU