Senin, 15 Juli 2024

2020, Pertamina Mulai Lakukan Pengeboran Minyak di Blok East Natuna

ads-custom-5

Jakarta, BUMNInfo | Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Djoko Siswanto menyebutkan, untuk mengembangkan migas di Blok East Natuna, pemerintah akan membangun kilang minyak mini yang berkapasitas sekitar 20.000 barrel per hari.

Minyak yang akan diproduksikan ini, rencananya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan di sekitar Natuna, antara lain untuk bahan bakar kapal TNI dan para nelayan.

“Itu East Natuna itu kan ada dua lapangan ya, satu lapangan gas yang mengandung CO2 tinggi dan minyak. Nah kita fokus untuk menyelesaikan yang lapangan minyaknya dulu. Karena kalau minyak investasinya tidak terlalu besar karena tidak memisahkan CO2-nya kan,” kata Djoko ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (9/1/2020).

Ditargetkan tahun ini, Pertamina akan memulai pengeboran di Blok East Natuna. “Kita fokus ke minyak dulu, mudah-mudahan tahun ini sudah dilakukan pengeboran di Natuna D Alpha, minyaknya.

Di samping itu ada Lapangan Sembilang di Natuna kita akan selesaikan bulan ini juga,” ujarnya. Lebih lanjut, Djoko Siswanto mengatakan, investasi untuk pembangunan kilang minyak mini ini, juga akan ditawarkan kepada badan usaha.

“Kalau yang Natuna D Alpha iya Pertamina sebagai operator. Sekarang Pertamina sedang mencari partner, di samping itu Exxon juga kita tawarkan memfokuskan untuk mengerjakan yang minyaknya dulu,” katanya.

Sebagaimana diberitakan, pemerintah berencana akan memproduksikan lebih dulu cadangan minyak di Blok East Natuna, baru kemudian gasnya. Blok East Natuna memiliki dua level di mana level atas merupakan gas dan level bawah adalah minyak.

Cadangan gas di East Natuna diperkirakan 4 kali lipat dari Blok Masela. Dilansir dari Harian Kompas, 23 Juli 2016, Haposan Napitupulu, mantan Deputi Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas, menjabarkan bahwa laut Natuna memiliki cadangan minyak dan gas (migas) yang sangat besar.

Salah satu blok migas di Natuna yang cadangannya sangat besar lapangan gas Natuna D-Alpha dan lapangan gas Dara yang kegiatan eksplorasinya telah dilakukan sejak akhir 1960-an.

Ketika itu salah satu perusahaan migas Italia, Agip, melakukan survei seismik laut yang ditindaklanjuti dengan melakukan 31 pengeboran eksplorasi.

Kegiatan in berhasil menemukan cadangan migas terbesar sepanjang 130 tahun sejarah permigasan Indonesia dengan cadangan gas 222 triliun kaki kubik (TCF) dan 310 juta bbl minyak, dengan luas 25 x 15 km2 serta tebal batuan reservoir lebih dari 1.500 meter.

Namun, sayangnya, hingga ditemukan pada 1973, lapangan gas D-Alpha ini belum dapat dieksploitasi karena membutuhkan biaya yang tinggi disebabkan kandungan gas CO2-nya yang mencapai 72 persen.

Pada 1980, pengelolaan blok ini digantikan oleh Esso dan Pertamina. Esso kemudian bergabung dengan Mobil Oil menjadi ExxonMobil dan telah menghabiskan biaya sekitar 400 juta dollar AS untuk melakukan kegiatan eksplorasi dan kajian pengembangan lapangan. Namun, tetap saja lapangan gas ini belum berhasil dieksploitasi.

Saat ini ada 13 perusahaan migas, dua di antaranya perusahaan migas nasional, melakukan kegiatan operasi perminyakan di Laut Natuna. Enam blok di antaranya telah dan akan berproduksi. Tujuh blok lainnya masih dalam tahap eksplorasi.

Sumber : money.kompas.com

BERITA TERKAIT

ads-sidebar
ads-custom-4

BACA JUGA

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU