Jumat, 19 April 2024

Jasa Tirta I Siap Penuhi Kebutuhan Air Saat Kemarau

ads-custom-5

Malang, BUMNinfo | Berdasarkan prediksi BMKG, perkembangan ENSO dari BMKG menyatakan, fenomena El Nino Lemah akan berlangsung hingga November 2019 (indeks ENSO berkisar -0.46 hingga 0.78). Tentunya, hal ini berdampak pada distribusi curah hujan bulanan di Jawa Timur pada kisaran dominan lebih kecil dari normalnya.

“Dalam menghadapi musim kemarau, Perum Jasa Tirta I (PJT I) sebagai BUMN pengelola sumber daya air, memiliki peranan dalam mengelola ketersediaan air permukaan melalui pengendalian, serta pengaturan waduk-waduk yang dikelola oleh perusahaan. Tampungan air yang telah disimpan sepanjang musim hujan didistribusikan secara merata hingga hilir aliran di sepanjang kemarau,” jelas Direktur Utama PJT I, Raymond Valiant Ruritan, ST, MT.

Disebutkan Raymond, ada 8 bendungan besar yang dikelola oleh PJT I, dimana 7 bendungan di Wilayah Sungai Brantas, dan 1 bendungan di Wilayah Sungai Bengawan Solo. Kedelapan bendungan tersebut, di antaranya Bendungan Sengguruh, Bendungan Sutami, Bendungan Lahor, Bendungan Wlingi, Bendungan Selorejo, Bendungan Wonorejo, Bendungan Bening, dan Bendungan Wonogiri.

“Setidaknya untuk memenuhi kebutuhan air selama 5 bulan kedepan hingga Oktober tersedia 354 juta m3 tampungan air di WS Brantas dan 348 juta m3 di WS Bengawan Solo,” ujar Raymond.

Dari hasil analisa BMKG, perkembangan dinamika atmosfer-laut hingga dasarian I Mei 2019, tampak bahwa anomali suhu muka laut di Samudera Pasifik Ekuator bagian tengah (Nino 3.4) mengindikasikan kondisi El Nino Lemah (+0.77 °C). Hal ini mengakibatkan rata-rata curah hujan di beberapa wilayah cukup rendah.

Sementara, hasil pemantauan yang dilakukan oleh PJT I, diketahui kondisi elevasi beberapa waduk Perum Jasa Tirta I di akhir musim hujan berada di bawah elevasi muka air tinggi atau High Water Level (HWL). Elevasi Sutami per 1 Juni tercapai 272,34 m (SHVP) atau 0,16 m dibawah HWL, sedangkan Wonogiri di awal Mei hanya tercapai 135,51 m (SHVP) atau 0,49 m di bawah HWL.

Untuk mengendalikan kondisi ini, PJT I melakukan pengaturan debit outflow di setiap waduk dengan tetap memperhatikan pemenuhan kebutuhan air di masing-masing sektor pemanfaat yang telah diperhitungkan dalam Pola Operasi Waduk Tahunan (POWT) & Alokasi Air (POWTAA). POWTAA merupakan produk yang dihasilkan oleh Kementerian PUPR yang sebelumnya dibahas oleh Tim Koordinasi Pengelolaan SDA (TKPSDA), yang terdiri dari berbagai unsur berkepentingan akan air permukaan, baik dari sektor pemerintah maupun msyarakat pengguna air, petani, pelaku industri, PLTA, maupun PDAM.

Sumber: pemerintahan.memontum.com

Foto: Rhd

BERITA TERKAIT

ads-sidebar
ads-custom-4

BACA JUGA

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU